Rabu, 16 November 2016

Script PHP untuk memonitor Replikasi MySQL

Replikasi database adalah seperangkat teknologi yang digunakan untuk menyalin dan mendistribusikan data dari satu database ke database yang lain. Dan selanjutnya, mensinkronisasikan antar database untuk menjaga konsistensi. Dengan replikasi, data dapat didistribusikan ke lokasi yang berbeda dan pengguna yang jauh melalui LAN, WAN, Dial-up Connection, wireless connections, dan internet.



Jika anda sudah melakukan replikasi database (mysql) tentunya anda ingin agar segala status replikasi dari komputer server & cabang dapat dimonitor. Script PHP ini dapat anda gunakan sebagai source code untuk menampilkan data-data replikasi, antara lain:
  • File: Present binary log
  • Position: Binary log position
  • Io run: Slave IO Thread Running status
  • Sql run: SQL Thread Running status
  • ErrorNum: Error number
  • ErrorMeg: Error message
Anda dapat dengan mudah menghentikan / memulai setiap server slave (STOP SLAVE / MULAI SLAVE) dengan satu klik.
Hal ini juga dapat memberikan informasi rinci tentang variabel statusnya global halaman yang sama.
Sistem dapat dikonfigurasi otomatis refresh secara default setiap 2 detik untuk menyediakan status terkini dari kedua MySQL Server di Replikasi.
Dalam kode Anda hanya perlu menyesuaikan parameter berikut sesuai kebutuhan:



#host-name & ports for replication servers
$slave = “localhost”;
$master = “localhost”;
$slaveport=3306;
$masterport=3307;

#Refresh rate
$refreshRate=2;

#considered a common username password for accessing both servers#
$username=”root”;
$password=”kedar”;

Download Source Codenya:Download Source Code
Untuk artikel Science dan Technology lainnya, kunjungi halaman ini.Science & Technology

Rabu, 24 Agustus 2016

Catatan Kemanusiaan


Teman, sempatkanlah untuk membaca sedikit penggalan cerita hidup dan seruan ini.
Ketika saya berjalan di lorong jalan, seorang kakek yang hampir mati terbaring di sisi jalan. Terlihat kelaparan dan haus.
Ketika saya berjalan melewati terowongan jalan lainnya, saya dapati seorang pemuda tertidur lemas, pucat dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Di malam hari, sebuah keluarga lengkap, ayah dan ibunya tidur di sisi jalan, anak-anaknya berbaring di dalam gerobak.
Seorang laki-laki kurang beruntung, yang kedua kakinya diamputasi, mengayuh kursi roda di tepi lampu merah, menjajakan koran.
Anak-anak kecil menggenggam ukulele, tidak tahu keberadaan bapak dan ibunya.
Seorang waria yang menangis.
Tukang sol sepatu yang diangkut ke mobil.
Penjual sayur kaki lima teriak histeris.
Anak yang bapaknya mati di medan perang.
Nenek yang kehilangan suami di '65.
Kaum yang rumah ibadahnya dibakar.
Seorang syiah yang dibunuh dan dilempari.
Anak-anak yg memapah karung berisi barang bekas.
Seorang pengidap AIDS yang dijustifikasi dan dijauhi.
Beberapa golongan yang dihakimi sebagai abnormal atas orietasi seksual.
Yang berjas elit, sibuk membicarakan politik.
Yang berkantong tebal mempelihara jiwa hedonisnya.
Yang sejahtera menjaga asupan gizi anaknya.
Pemuka Agama bersyiar kemana-mana, ortodoks satu-satunya jalan, suni yang diterima di surga, protestan adalah awal kebenaran, budha adalah kebenaran akan pemahaman, hindu adalah sejatinya akan kenikmatan, katolik adalah cahaya yang bersinar.
Engkau berbicara di media bahwa solusi kesejahteraan bertumpu pada konservatif, komunism, kapitalis, fasis, nazism, syari'ah.
Engkau berbicara bahwa hidup hanya sekali, perbanyak emasmu, perbanyak berlianmu, perbanyak tanah dan tambakmu.
Engkau berbicara bahwa hanya kitalah yang menginjakkan kaki di surga, atas nama Tuhan dan agama yang kita anut, mereka berbeda keyakinan dengan kita. Bahwa atas nama kebenaran hanya ada pada keyakinan golongan kita.
Engkau berseru bahwa demi mengejar imperialis marilah kita menciptakan nuklir untuk keamanan, kita mencetak tentara sebanyak mungkin, kita ciptakan selongsong peluru, perbanyak produksi mesiu.
Rasa kemanusiaan kami akhirnya buram, keserakahan sudah meracuni pikiran kami, kami berpikir terlalu banyak dan merasa terlalu sedikit, pengetahuan kami membuat kami sinis, surga memburamkan dunia kami, perbedaan paham membangun sekat kami, jalan hidup kami sebenarnya indah tapi kami telah kehilangan jalan.
Saya, sebuah titik dari kumpulan milyaran manusia, ingin menghancurkan kegamangan ini.
Anda!
Dalam diri anda, ada banyak harapan, harapan akan rasa kemanusiaan, harapan akan cahaya yang menyinari seluruh ruang mahluk, harapan akan dunia yang lebih baik, harapan akan persatuan tanpa sekat.
Anda adalah manusia yang didalam diri anda masih tertanam rasa cinta, kemanusiaan, iba. Anda bukan seorang pembenci, bukan seorang dengan rasa egoisme yg tinggi, bukan perampas hak.
Anda sejatinya tidak suka perbedaan, tidak suka pertentangan, tidak suka akan polemik yang tidak berkesudahan.
Kita ingin membantu satu-sama lain, memundak yang lelah berjalan, menggotong beban dan menghilangkannya dengan bersama.
Kita ingin berjuang akan kebebasan, kebebasan semua umat.
Kita ingin sebuah Bumi yang utuh, ingin menghapuskan garis-garis pemisah yang sebelumnya kita gambar.
Didalam kebersamaan yang erat pada akhirnya kita akan menatapi penderitaan sesama, senjata yang sudah terlanjur kita rakit, gumpalan-gumpalan mesiu, ideolodi-ideologi yang kita bentuk, berbagai cerita surga yang selalu kita bicarakan, Emas dan berlian yang kita tumpuk.
Dan kita berpikir, untuk apa "semua" ini?





CC:

Rabu, 27 Januari 2016

Dr. Ryu Hasan: Pengalaman Bertemu Dengan Seorang Gay


"Dr. Ryu Hasan, Sp.BS Ingin Semua Manusia Bahagia Menjadi Diri Sendiri"
Pengalaman bertemu dengan seseorang gay terjadi pada saat saya masih SMA di Kota Malang. Saya memiliki sahabat baik yang tiba-tiba mengatakan sesuatu yg tidak biasanya tentang dirinya: “Saya ingin ngomong sesuatu yang mungkin membuat kamu nggak nyaman,” ujar teman saya.
“Ngomong apa?” tanya saya.
Di situlah ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang gay. Ia seorang pria yang menyukai pria lain. Saya katakan bahwa saya tidak merasa risih. Saya nyaman dengan kondisinya dan tetap berteman dengannya. Dalam kesehariannya, ia adalah anak yang baik. Saya pernah membelanya di saat seorang murid di sekolah kami menghinanya dengan sebutan, maaf, banci. Istilah ini merendahkan sekali. Saya malahan merasa risih jika seorang yang sebenarnya baik, tetapi harus dipinggirkan oleh lingkungan sekitarnya hanya semata-mata karena pembawaan dirinya.
" Saya katakan bahwa saya tidak merasa risih. Saya nyaman dengan kondisinya dan tetap berteman dengannya.
Saat teman saya mengatakan identitasnya kepada saya, tidak banyak yang bisa saya katakan kepadanya. Karena masih SMA, saya belum mengetahui tentang ilmu kedokteran. Namun, kami tetap berteman baik. Kami tetap sering ngobrol bareng dan terkadang ia main ke rumah saya. Persahabatan kami bisa dibilang solid.
Setelah mulai mempelajari ilmu kedokteran, saya mendapatkan begitu banyak fakta medis mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Ternyata, kita ini semua terlahir abu-abu, dan bukan hitam-putih. Sayangnya, lingkungan dan budaya kita tidak diperkenalkan dengan situasi ini dengan baik.
Semenjak kecil, kita diperkenalkan melihat hal segala sesuatu secara dua sisi, dikotomis. Ya, kalau nggak, hitam, ya putih. Kalau nggak benar, ya salah. Kalau nggak lelaki, ya perempuan. Padahal, segala sesuatu seharusnya dilihat dengan kacamata spektrum, karena alam semesta ini memang abu-abu. Yang dimaksud dengan spektrum adalah melihat adanya kategori-kategori lain di kedua ujung yang paling ekstrem. Misalnya, jika kedua ujung ekstrem adalah hitam dan putih, di antara kedua ujung tersebut ada yang hitam keputih-putihan alias abu-abu yg hampir hitam, ada yang putih kehitam-hitaman alias abu-abu yang mendekati putih, ada pula yang abu-abu di tengah-tengah.
"Saya pernah membelanya di saat seorang murid di sekolah kami menghinanya dengan sebutan, maaf, banci. Istilah ini merendahkan sekali.
Masalahnya, ketika turun ke masyarakat, kita hanya mengenal lelaki dan perempuan saja, terbiasa dengan pemikiran dikotomis, sehingga kita tidak dapat menyikapi orang-orang yang memiliki kecenderungan berada di antaranya dengan baik. Ini salah. Bayangkan jika kita dikenalkan melihat segala sesuatunya sebagai spektrum sedari kecil, pasti kita akan jauh lebih rileks melihat keunikan-keunikan manusia.
***
Di saat saya mulai kenal ilmu psikiatri, ilmu kejiwaan, dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi kedua tahun 1984, di situ dijelaskan bahwa gay hanyalah dianggap penyakit kejiwaan apabila orang yang berkaitan mengalami depresi. Artinya, jika harus ‘disembuhkan’, yang disembuhkan bukan orientasi seksualnya, melainkan depresinya. Pedoman itu secara berkala disempurnakan sejalan dengan perkembangan ilmiah dunia kedokteran.
"Saya malahan merasa risih jika seorang yang sebenarnya baik, tetapi harus dipinggirkan oleh lingkungan sekitarnya hanya semata-mata karena pembawaan dirinya
Jadi, isinya akan selalu relevan dan dapat digunakan oleh semua dokter di Indonesia dan seluruh dunia. Kini, Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa sudah memasuki edisi keempat, dan gay, lesbian, biseksual, atau transgender sudah benar-benar bersih dari anggapan penyakit yang harus disembuhkan. Karena memang bukan penyakit. Tidak ada salahnya dengan manusia yang terlahir gay, lesbian, biseksual, atau transgender. Dari kacamata dunia kedokteran, tidak ada yang harus disembuhkan karena LGBT bukanlah penyakit. Jadi, kalau ada dokter yang masih menganggap LGBT sebagai penyakit yang harus disembuhkan, saya bingung panduannya apa? Bukan dokter yang bilang begitu. Sebagai dokter kita harus selalu relevan dengan perkembangan, jangan ketinggalan jaman.
Mengapa manusia bisa dilahirkan memiliki orientasi yang berbeda, sebagai bagian dari identitasnya? Identitas diri manusia didasarkan pada konstelasi otaknya, atau susunan saraf pada otaknya. Otak adalah organ pertama yang terbentuk saat manusia masih menjadi janin. Saat otak ini mulai berkembang di dalam janin, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti asupan ibunya, hormon bawaan orangtua, hormon bayinya sendiri, faktor genetik, dan sebagainya. Semua faktor-faktor ini mempengaruhi bentuk konstelasi sirkuit-sirkuit otak janin nanti akan seperti apa. Orang yang suka senyum memiliki konstelasi otak yang berbeda dengan orang yang gampang menangis. Dua orang kembar pun akan berbeda konstelasi otaknya. Konstelasi otak juga menentukan orientasi seksual.
"Kini, Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa sudah memasuki edisi keempat, dan gay, lesbian, biseksual, atau transgender sudah benar-benar bersih dari anggapan penyakit yang harus disembuhkan.
Sebenarnya, orientasi seksual sama halnya dengan orientasi selera terhadap rasa. Ada orang yang suka manis. Ada orang yang suka asin. Ada pula yang suka dua-duanya. Menurut ilmu saraf, masing-masing orang memiliki konstelasi otak yang berbeda. Orang yang suka asin, memiliki konstelasi otak yang berbeda dengan orang yang suka manis. Begitu juga dengan orientasi seksual. Seorang pria yang menyukai pria memiliki konstelasi otak yang berbeda dengan pria yang menyukai wanita. Ini hanyalah masalah variasi normal dari otak manusia.
Mengatakan pria yang menyukai pria tidak normal sama saja mengatakan orang yang menyukai makanan manis itu tidak normal. Ini, kan, nggak adil. Kenapa nggak boleh?
***
Kita harus melihat jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual sebagai tiga hal yang terpisah, karena ketiga hal tersebut dikontrol oleh sirkuit otak yg berbeda.
"Sebenarnya, orientasi seksual sama halnya dengan orientasi selera terhadap rasa. Ada orang yang suka manis. Ada orang yang suka asin.
Dengan melihat melalui pemahaman spektrum, kita bisa mendapatkan keberadaan orang-orang yang memiliki jenis kelamin laki-laki, bergender maskulin, tetapi orientasi seksualnya menyukai laki-laki juga. Ada pula yg memiliki jenis kelamin laki-laki, memiliki gender yang feminim, tetapi menyukai wanita. Jadi, kita tidak bisa mengatakan laki-laki yang feminin pasti gay atau lelaki yang gay pasti feminin.
Dunia itu tidak dikotomis. Misalnya, kalau jenis kelaminnya laki-laki, gendernya harus maskulin, dan harus menyukai wanita. Manusia tidak sederhana itu. Mulailah melihat segala sesuatu dengan kacamata spektrum. Terlahir sebagai gay, lesbian, biseksual, atau transgender bukanlah sebuah pilihan. Ini adalah keadaan yang sudah terbentuk sejak sebelum lahir. Dan seandainya pun itu dianggap pilihan, juga bukan masalah. Maksudnya begini: menjadi dianggap pilihan karena tergantung dari bagaimana manusia tersebut menyikapinya. Misalnya ada orang yang memiliki kecenderungan menyukai lelaki dan perempuan, tetapi ia tetap memilih untuk menyukai perempuan saja walaupun ketertarikannya terhadap laki-laki jauh lebih besar. Ini, ya, nggak papa. Sama seperti orang bisa bermain musik gitar atau drum, ia bisa memilih bermain gitar saja. Ya, nggak papa, kan? Pertanyaannya adalah, “Apakah ia bahagia?”
"Mengatakan pria yang menyukai pria tidak normal sama saja mengatakan orang yang menyukai makanan manis itu tidak normal.
Ini menjawab anggapan bahwa seseorang yang tadinya bukan gay, tetapi bisa menjadi gay lantaran banyak menghabiskan waktu dengan kalangan gay. Anggapan ini salah. Jika seseorang menjadi gay, itu karena ia memang sudah punya bakat menjadi gay.
Lingkungan hanya membantu memunculkan sosok manusia itu yang sebenarnya. Tapi kalau memang tidak memiliki bakat gay, mau memiliki teman-teman yang semuanya gay, juga nggak mungkin menjadi gay.
"Terlahir sebagai gay, lesbian, biseksual, atau transgender bukanlah sebuah pilihan.
Ingin menjadi gay atau tidak, yang penting tidak ada pemaksaan di situ. Jika ada unsur pemaksaan, itu sudah melanggar moral. Prinsip dasar moralitas adalah kita memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Selama seseorang tidak menggangu orang banyak, kenapa harus dipermasalahkan?
***

Kamis, 14 Januari 2016

Revolusi Science, Revolusi Teknologi, Evolusi Manusia

Revolusi perpaduan Science dan Teknologi semakin terlihat jelas belakangan ini. Benar yang dikatakan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene, "Genetika Manusia cenderung berevolusi dan dari evolusi ini akan hadir hal-hal baru yang revolusioner yang diciptakan oleh manusia sebagai tolak ukur peradaban manusia pada beberapa saat mendatang".

Science dan Teknologi selalu berkembang setiap saat. Manusia memulai peradabannya dari mesin uap, listrik, transportasi udara, internet, hingga jutaan software dan hardware yang mempermudah aktivitas manusia itu sendiri, tepat seperti realitas yang saat ini anda saksikan. Terlebih pada saat sekarang kita sudah tidak asing dengan teknologi robotik yang dapat bekerja dan beraktivitas layaknya aktivitas manusia sehari-hari. 

Kita memasuki era Artificial Intelligence (AI) dan termasuk perpaduan science dan teknologi, anda bisa menyebutnya dengan sebutan Artificial Neural Network.
Robot-robot dapat mengerti perintah melalui susunan-susunan algoritma rumit yang berhasil dirancang oleh manusia. Sistem syaraf buatan diciptakan melalui model algoritma yang rumit dan berhasil diimlementasikan kepada robot. Alhasil robot dapat memahami, mengklarifikasi, peka terhadap situasi, termasuk merasakan adanya emosional pada momen tertentu.



Apa yang membuktikan bahwa evolusi itu nyata? Evolusi bukan sekedar perubahan pada bentuk maupun struktur fisik namun mencakup perkembangan tingkat inteligensia manusia dari waktu ke waktu. Pesawat yang sering anda lihat sekarang adalah sihir di mata nenek moyang anda. Robot yang menjadi teman aktivitas sehari-hari anda pada saat ini adalah hantu di mata nenek moyang anda. Dengan kesimpulan, manusia mempunyai struktur DNA yang memacu manusia itu sendiri untuk terus melakukan eksplorasi dan menciptakan hal-hal baru dari masa sekarang ke masa mendatang. Yah, DNA turut ber-evolusi.

Manusia selalu bertanya-tanya apakah di space sana ada kesempatan bagi manusia untuk menemukan hunian baru? Pada kesempatan itu diciptakan sebuah robot (Curiosity) yang mampu menerima transmisi dari jarak jauh (Bumi-Mars). Sebuah robot yang berhasil menyentuh permukaan tanah mars dan berhasil mengumpulkan beberapa data terkait dengan planet mars dan mengirimkan data-data tersebut ke bumi. Alhasil, kita tahu bagaimana keadaan di mars sana!

Jika dulu kita hanya dapat memandang dan bertanya-tanya ada apa diatas sana? Saat ini kita sudah dapat menemukan kenyataan bahwa diatas sana kita mendapati milyaran bintang, galaksi dan planet-planet lain. Kita sudah berhasil menginjakkan kaki di bulan. Kita berhasil mengirim perangkat ke permukaan mars. Kita berhasil mendapatkan gambar permukaan pluto. Kita berhasil menemukan planet yang mirip dengan bumi, kita sebut planet Kepler.




Kamis, 31 Desember 2015

INDONESIA 2015 BANGSA MISKIN ILMU

Tahun ini hadiah Nobel Kedokteran jatuh kepada Tu Youyou (84), ilmuwan Tiongkok yang menemukan obat malaria, artemisinin. Selain gigih bereksperimen dan menelisik naskah kuno, kesuksesan Tu tak akan terwujud tanpa imajinasi pengetahuan pemimpin Tiongkok saat itu, Mao Tse Tung.
Pada 21 Januari 1969, Mao Tse Tung memberi tugas kepada Tu Youyu memimpin "Proyek 523". Unit militer rahasia itu punya satu misi: mencari obat malaria. Perintah Mao dilatari permintaan bantuan sekutu mereka, Vietnam Utara, yang melawan Amerika Serikat, untuk mengatasi malaria. Banyak prajurit Vietkong yang bergerilya tewas oleh malaria-hal serupa dialami serdadu AS di Vietnam.
Tu kala itu berusia 39 tahun dan bekerja bagi Academy of Traditional Chinese Medicine di Beijing. Ia dipilih karena dinilai cocok dengan semangat "Revolusi Kebudayaan" yang digagas Mao. Ia mendalami teknik pengobatan tradisional Tiongkok dan mendapat didikan cara Barat dari Departemen Farmakologi Peking University School of Medicine.
Kemudian, Tu segera melakukan observasi ke Pulau Hainan, di selatan Tiongkok, yang dilanda wabah. "Saya melihat banyak anak kena malaria akut. Mereka meninggal cepat," sebut Tu, padaNew Scientist, 2011.
Sekembali di Beijing, Tu minta timnya mengumpulkan resep obat-obatan kuno Tiongkok. Tu mengunjungi banyak tabib di negeri itu, wawancaranya ditulis di buku catatan, Koleksi Praktik dan Resep untuk Anti-Malaria.
Sekitar 2.000 resep obat tradisional Tiongkok dikumpulkan, 640 di antaranya punya prospek melawan malaria. Tu menguji coba sekitar 380 resep, salah satunya ekstraksi daun qinghao atausweet wormwood (Artemisia annua L). Namun, ekstrak qinghao yang didapat dengan merebusnya di suhu tinggi tak stabil.
Tu lalu membuka kembali manuskrip dan menemukan tulisan Ge Hong dari abad ke-4 yang menyebut teknik mengolahqinghao. Disebutkan, daun qinghaodirendam dengan sedikit air dingin, diremas agar keluar intisarinya, lalu ditelan habis.
Ini momen "eureka" bagi Tu. Merebus daun qinghao pada suhu tinggi merusak khasiatnya. Ia mencoba mengekstraksinya di cairan yang dipanaskan kurang dari 35 derajat celsius. Saat ekstraksi dicobakan ke tikus dan monyet yang ditulari parasit malaria, hasilnya 100 persen efektif.
Tu mencoba ke tubuhnya sendiri, dan aman. Ia mencoba menyembuhkan pasien malaria dengan ekstraksiArtemisia annua L, disebut artemisinin atau qinghaousu.
Obat tradisional yang ditemukan kembali oleh Tu, diisolasi dan dikombinasikan unsur lain itu, menjadi harapan baru perang melawan malaria. Penyakit purba itu menyebar di lebih dari 107 negara dengan angka kesakitan 300 juta-500 juta orang dan kematian 1,5 juta orang per tahun.
Parasit malaria dikenal digdaya dan cepat resistan pada obat. Artemisinin terbukti mematikan parasit malaria. Laporan resistansi artemisinin muncul dari populasi di daerah aliran Sungai Mekong. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan artemisinin combination therapies (ACT) sebagai obat malaria.
Dedikasi Tu mencari obat malaria tak disangsikan. Ia pantas mendapat Nobel. Hal menarik ialah keyakinan Tu pada akar budaya dengan menelisik resep tradisional Tiongkok. Faktor penting lain ialah Mao Tse Tung.
"Tanpa visi dan imajinasi mencari solusi dengan ilmu pengetahuan, Mao tak akan membentuk Proyek 523. Tanpa Proyek 523, obat artemisinin tak ditemukan. Visi ini tak dimiliki para pemimpin kita," kata Sangkot Marzuki, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).
Krisis pengetahuan
Minimnya imajinasi ilmu pengetahuan tampak dari rendahnya publikasi ilmiah dari Indonesia yang diakui dunia. Menurut Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014, Indonesia baru punya 5.000 terbitan ilmiah di pengindeks internasional dan 1.130 paten.
Sementara Thailand, dengan produk domestik bruto (PDB) hampir sama, punya 11.313 terbitan ilmiah dan 7.740 paten. Publikasi ilmiah dari Indonesia kalah jauh daripada Malaysia, Filipina, dan negara lain yang berpendapatan lebih rendah.
Hal itu seiring kecilnya investasi pemerintah bidang riset. Anggaran riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia 0,09 persen dari PDB, lebih rendah daripada Thailand (0,85 persen PDB) dan Malaysia (di atas 1 persen PDB).
Situasi lebih memprihatinkan pada riset dasar. "Pada 2007 pendanaan riset dasar hampir berimbang dengan riset terapan, kini persentasenya turun. Mestinya riset dasar dan terapan sejalan," kata Sangkot.
Riset dasar berdasarkan rasa ingin tahu demi menjawab soal. "Kalau menemukan jawaban, ada pertanyaan baru. Produk riset dasar ialah ilmu pengetahuan," ujarnya.
Adapun ukuran kesuksesan ilmu terapan ialah tercipta produk berdaya guna dan diterima pasar. Hilangnya imajinasi pengetahuan dan rendahnya dukungan pada riset dasar memicu krisis ilmu pengetahuan.
Hal itu memicu hilangnya tradisi ilmu pengetahuan sebagai dasar berpikir. Jika budaya ilmu pengetahuan hilang, bonus demografi jadi beban masa depan. Kita jadi bangsa konsumtif, kehilangan daya saing, tak punya daya mengatasi masalah.
Sebagai contoh, kebakaran hutan berulang, tapi minim solusi komprehensif. Saat hutan-hutan terbakar, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kanalisasi lahan gambut. Ilmuwan LIPI, Eko Yulianto, mengatakan, "Saya bingung apa yang mesti dilakukan. Solusi pemerintah aneh. Banyak studi menunjukkan itu konyol."
Sejak kebakaran gambut di Kalimantan pada 1997, LIPI bekerja sama dengan Badan Iptek Jepang (JST) mempelajarinya. Dalam 10 tahun, hal itu meluluskan sekitar 80 doktor bidang gambut dari Indonesia, termasuk Eko. Namun, hasil riset dari mereka tidak dilirik pembuat kebijakan.
Pada masa kolonial, negeri ini melahirkan sejumlah ilmuwan besar, di antaranya Alfred Russel Wallace dan Christiaan Eijkman. Wallace meneliti keragaman hayati terkait bentang alam Nusantara, lalu dikenal sebagai penemu teori evolusi bersama Charles Darwin. Eijkman diganjar Nobel Kedokteran pada 1929 karena menemukan konsep defisiensi vitamin, seusai meneliti wabah beri-beri di Batavia.
Ironisnya, 70 tahun merdeka, negeri ini melahirkan banyak birokrat korup dan politisi mahir bersiasat. Kebijakan penentu nasib bangsa kebanyakan hanya dilandasi kepentingan politik dan ekonomi sesaat.

Sumber: Ahmad Arif

Rabu, 30 Desember 2015

Catatan Ringkas : Perbedaan Prinsip Kemanusiaan dan Prinsip Agama

KEMANUSIAAN:
Sampai sekarang saya yakin bahwa prinsip kemanusiaan jauh lebih utama daripada prinsip standar moral, tata-aturan sosial dan etika yang diatur oleh doktrin agama itu sendiri.
Diatas prinsip kemanusiaan anda tidak akan menemukan berbagai sekat dan perbedaan karena esensinya jelas, "kemanusiaan" adalah bagaimana anda memandang manusia dan memperlakukan sesama manusia setara dgn anda. 
Kita manusia adalah "SATU".



Diatas standar agama?

Ya seperti yang anda lihat.
Setiap detik, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun anda tidak akan henti-hentinya dihadapkan oleh polemik yang terjadi atas label agama.
Mengapa polemik atas nama agama bisa terjadi?
Karena memang semenjak dari awal masing-masing agama meletakkan fondasi etika, moral dan nilai sosial yang berbeda-beda dgn agama lainnya.
Anda akan menemui standar aturan dan doktrin yang berlaku dan berbeda-beda diantara masing-masing agama.
Seorang yang korup berdalih atas nama agama.
Seorang pelaku pedofilia berdalih atas nama agama.
Seorang teroris berdalih atas nama agama.
Seorang yang nikah siri berdalih atas nama agama.
Seorang yang memperbudak manusia lainnya berdalih atas nama agama.
Seorang yang mengkafirkan sesamanya berdalih atas nama agama.
Seorang yang minun air kencing unta berdalih atas nama agama.
Seorang pengemplang dana umat berdalih atas nama agama.
Bahkan dua orang yang seharusnya saling menyayangi sekalipun rela saling meninggalkan hanya karena atas nama agama.
Tidak ada seorang-pun pelaku kekerasan dan tindakan amoral berdalih atas nama "kemanusiaan".
Gandhi turun ke jalan bukan atas nama agama.
Abraham lincoln menentang perbudakan bukan atas nama agama.
Nelson Mandela menentang apartheid bukan atas nama agama.
Begitu halnya dengan Marthin L King.
Satu lagi.
Yesus sekalipun menentang kesewenangan rezim romawi bukan atas nama agama!


Bakteri yang membuktikan teori EVOLUSI


Ilmuwan menemukan mikroorganisme di dasar lautan yang tidak berevolusi selama 2 miliar tahun. Penemuan tersebut mendukung teori evolusi yang dinyatakan oleh Charles Darwin.
Dalam penelitian, ilmuwan mengobservasi komunitas fosil bakteri pemakan sulfur yang ada di Australia Barat. Di 2 deposit, ilmuwan menemukan bakteri yang masing-masing berumur 1,8 dan 2,3 miliar tahun.

“Itu jarak evolusi antara trilobite (jenis arthropoda laut kuno yang telah punah) ke manusia,” kata J William Schopf, paleontolog University of California di Los Angeles.
Schopf dan rekannya kemudian membandingkan fosil bakteri tersebut dengan komunitas mikroorganisme pemakan sulfur di lepas pantai Chile pada tahun 2007. Mereka tak menemukan perbedaan antara fosil dan bakteri yang masih hidup kini.

Dalam publikasi risetnya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences bulan ini, Schopf menyimpulkan bahwa tak adanya perubahan pada bakteri itu menunjukkan absennya perubahan pada lingkungan hidupnya.

“Mereka benar-benar terlindungi di lingkungan yang ada di Bumi yang tak berubah, sejak kita memiliki lautan,” ungkap Schofp seperti dikutip New York Times, Senin (9/2/2015).
Darwin dalam bukunya The Origin of Species menguraikan bahwa perubahan lingkungan akan memicu seleksi alam dan evolusi. Kenyataan bahwa dengan tak adanya perubahan lingkungan disertai dengan tak adanya evolusi juga mendukung teori Darwin.

“Evolusi adalah hasil dari adaptasi organisme pada perubahan fisik dan biologis di lingkungannya. Maka bila lingkungan tidak berubah, wajar bila organisme tidak mengalami perubahan,” jelas Schofp.



sumber: KOMPAS.COM

 
Design by Jery Tampubolon | Bloggerized by Jery - Rhainhart Tampubolon | Indonesian Humanis