Sabtu, 17 Februari 2018

Denial: Apa penyebabnya?

Denial: Apa Penyebabnya?


Dalam psikologi, terma “denial” (kata Inggris; artinya “penyangkalan”) dikenakan pada seseorang yang dengan kuat menyangkal dan menolak serta tak mau melihat fakta-fakta yang menyakitkan dirinya atau yang tak sejalan dengan keyakinan-keyakinan, pengharapan-pengharapan, dan pandangan-pandangannya. Orang ini dikatakan sedang berada dalam sikon “in denial”, terkurung dalam denialisme.


Denialisme membuat seseorang hidup dalam dunia ilusifnya sendiri, terpangkas dari realitas kehidupan, dan orang ini nyaris tidak lagi mampu keluar dari cengkeramannya. Pikirannya diisi sendiri dengan, dan dimanfaatkan orang lain sebagai balon yang diisi, banyak khayalan, fantasi, reka-rekan ngalor-ngidul liar tak terkendali, dan teori-teori konspirasi yang tidak berpijak pada fakta dan bukti objektif yang terverifikasi. Inilah hidup “in denial of reality”! 

Ketika seseorang hidup dalam denial, “backfire effect” atau “efek bumerang” sangat mungkin terjadi pada dirinya: Alih-alih membenahi dan mengoreksi diri, dia berbalik makin ekstrim dan ngotot mempertahankan pandangan dan keyakinannya semula walaupun pandangan dan keyakinannya ini sudah diargumentasikan dan dibuktikan salah! Semua argumen anda dan bukti-bukti yang anda ajukan untuk menolak pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya seolah berbalik menyerang anda! 


Saat terbenam dalam denial, orang hidup dalam ilusi dan delusi. Hidup “in denial”. Orang ini lebih suka memilih mempersalahkan dan menyerang orang lain dengan membabi-buta, alih-alih memeriksa diri sendiri dan kelompoknya. Hidup dalam denial adalah hidup dengan menanggung beban batin dan beban pikiran yang sangat berat. Orang yang hidup dalam denial tentu saja sangat tidak berbahagia. Dirinya sendiri tidak berbahagia, dan juga membuat banyak orang lain tidak berbahagia.

Selain itu, setiap orang yang makin dalam terserang efek bumerang, makin mustahil baginya untuk menemukan kebenaran dan fakta; hidup mereka makin penuh dengan kebohongan, tipu daya, ilusi, delusi, dan makin banyak gangguan mental menyerangnya. Ingatlah, hidup semacam ini bisa sangat pendek dengan anda mati muda tanpa makna; tetapi anda juga bisa berumur panjang tapi nanti ketika anda wafat, anda wafat tanpa makna.

Model Kübler-Ross 

Menurut model psikiater Swiss, Elisabeth Kübler-Ross, ada empat tahap yang menyusul dan harus dilalui seseorang yang sedang terpenjara denialisme jika ingin akhirnya keluar dari penjara ini, atau sampai kehidupannya berakhir dengan kepasrahan dan kedamaian.

Pertama, tahap marah atau ngamuk karena menemukan fakta-fakta yang tidak sejalan dengan keinginan-keinginan, pengharapan-pengharapan dan keyakinan-keyakinannya. Dalam tahap ini, akal dan kesadarannya atas fakta-fakta tidak bekerja. Dia hidup dalam bahaya dan sekaligus membahayakan orang lain. Tahap ini bisa berlangsung sangat lama. 

Kedua, tahap tawar-menawar, dengan keinginan dan harapan semua hal yang didambakannya akan akhirnya diperolehnya hanya dengan sedikit ongkos dan pengorbanan. Tahap ini pun dapat berlangsung lama, diisi dengan pertarungan antara realitas, keinginan diri sendiri, dan kesediaan memberi sedikit untuk meraih kemenangan. 

Ketiga, tahap depresi. Setelah tahap tawar-menawar gagal, si individu masuk ke dalam tahap tekanan jiwa yang besar. Tahap ini adalah tahap paling sulit baginya untuk keluar dari penyangkalannya atas fakta-fakta. Depresi yang tak teratasi bisa bermuara pada tindakan bunuh diri atau berbagai tindakan yang merusak lainnya.

Tetapi jika tahap ketiga ini dengan susah-payah berhasil dilewati, si penderita masuk ke tahap terakhir, menuju kesembuhan, jika dia mau sembuh, atau dengan ikhlas menerima fakta bahwa dia akan mati.

Keempat, si individu akhirnya pasrah, menerima kenyataan yang pahit dan berat, kendatipun kenyataan ini tidak sejalan dengan semua keinginan dan harapannya. Lama kelamaan, dia mulai bisa hidup dalam kenyataan lagi, mula-mula tertatih-tatih. Atau, dia akhirnya rela menerima fakta bahwa penyakitnya akan segera merenggut nyawanya, dan tak lama kemudian dia mati dengan tenang dan ikhlas. 

Elisabeth Kübler-Ross menyusun model tersebut dari pengalaman-pengalaman realnya di sekolah kedokteran Universitas Chicago, ketika sedang menangani pasien-pasien yang sedang menderita suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan sedang menanti ajal atau sedang sekarat. Temuan-temuannya dituangkan dalam bukunya On Death and Dying: What the Dying Have to Teach Doctors, Nurses, Clergy and Their Own Families./1/ 

Pada kesempatan ini, saya mau menelusuri penyebab-penyebab yang lebih luas dari denialisme yang memenjara orang bukan hanya karena mereka sedang menderita penyakit-penyakit yang tidak tersembuhkan. Ada banyak faktor yang dapat mendorong seseorang atau sekelompok orang jatuh ke dalam denial, mulai dari persoalan pribadinya sendiri (misalnya dia menemukan dirinya menderita suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan; atau seorang istri tidak bisa menerima fakta bahwa suaminya telah meninggalkannya) hingga ke persoalan-persoalan sosial yang melibatkan lebih banyak orang dan variabel sosial lain (misalnya agama, ideologi, kekuasaan, ketamakan, atau persoalan ekonomi, dll).

Denialisme dalam intensitas keparahan yang berbeda khususnya sangat kuat menguasai orang yang beragama dalam zaman modern ini, ketika banyak klaim keagamaan tak sejalan lagi dengan fakta-fakta objektif dalam masyarakat atau fakta-fakta sains, yakni fakta-fakta apapun yang diungkap dan dibeberkan lewat metodologi saintifik; dan juga ketika agama-agama banyak dipakai sebagai ideologi-ideologi sektarian separatis pelegitimasi pendapat dan aksi politik yang tidak sedikit di antaranya menghalalkan jalan kekerasan dan pembunuhan sebagai sebuah metode pergerakan.

Ketimbang dengan terbuka menerima fakta-fakta objektif dalam masyarakat dan fakta-fakta sains, dan meninjau kembali keyakinan-keyakinan keagamaan mereka, orang yang beragama memilih denial, termasuk para pemimpin mereka yang mengklaim diri atau diklaim sebagai orang-orang yang terpelajar dan saleh. 

Pertanyaannya: Mengapa banyak sekali para penganut agama-agama memilih denial dengan sadar, ketimbang menerima fakta-fakta dengan terbuka? Berikut ini sejumlah jawabannya. 

Indoktrinasi intensif

Indoktrinasi kuat doktrin-doktrin keagamaan yang sudah dialami sejak kecil adalah salah satu penyebab denial pada orang beragama yang sudah dewasa. Sejak kecil, orang beragama apapun sudah diindoktrinasi dengan kepercayaan-kepercayaan bahwa agama mereka adalah agama yang paling sempurna dan tak bisa salah selamanya. Agama-agama lain bercacat dan salah semua. Indoktrinasi ini menyebabkan mereka tidak bisa menerima fakta-fakta bahwa setiap agama apapun selalu punya kekurangan dan keterbatasan, bahkan bisa tidak relevan lagi dalam dunia modern.

Tidak banyak orang beragama yang sudah dewasa yang bisa keluar dari penjara doktrin yang sudah ditanamkan kuat-kuat dalam pikiran mereka sejak kecil. Hanya segelintir! Dari yang segelintir ini, sebagian kecil mungkin pindah agama, dan sebagian terbesar memilih jadi ateis diam-diam yang lembut dan sebagian lagi menjalani kehidupan sebagai para ateis terang-terangan yang kerap vokal dan agresif.

Ada juga yang tidak mau menjadi ateis, tetapi juga tidak mau diam abadi dalam satu rumah teis, tetapi memilih menjadi sosok-sosok pemikir bebas yang mencari dan menggali nilai-nilai positif yang bisa masih ada dalam agama-agama, dan juga dalam ateisme, lalu mengembangkan nilai-nilai positif ini bagi 4 milyar orang dewasa yang kini masih beragama. Para pemikir bebas ini hanya bebas dalam berpikir dan mencari kebenaran dan fakta, tetapi mereka dengan sadar dan ikhlas mengikatkan diri pada kebajikan-kebajikan universal dan cinta kasih kepada segenap makhluk hidup.


Cuci otak

Indoktrinasi yang masif dan intensif, yang dilakukan dengan segala cara yang tidak membuka peluang apapun untuk orang bertanya, meragukan dan menolak, akan mengubah total isi dan cara kerja otak para korban. Inilah yang dinamakan cuci otak atau brainwashing. Para neurosaintis dan psikolog sosial sudah lama mempelajari cuci otak sebagai sebuah kegiatan propaganda yang berbahaya dan keji, yang merampas dan mematikan kebebasan dan hak setiap orang untuk menentukan jalan kehidupan dan isi pikiran mereka sendiri. Mari kita perhatikan hal berikut ini yang ditulis oleh neurosaintis Kathleen Taylor tentang cuci otak./2/ 

“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide yang sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu. Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia. 
Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.” 

Identitas individual dan komunal

Agama dengan kuat juga membentuk identitas seseorang, khususnya dalam masyarakat tradisional. Keluar dari agama, berarti kehilangan identitas, dan kehilangan identitas sama artinya dengan dicabutnya kemanusiaan seseorang. Agama sebagai identitas yang harus dipertahankan, juga salah satu penyebab denial dalam diri orang beragama. 

Ada orang yang secara personal cukup mudah mengubah identitas keagamaan mereka; ada juga yang sangat sulit. Tetapi sampai wafat banyak orang kokoh mempertahankan identitas keagamaan mereka apapun juga yang sudah dan sedang terjadi pada agama anutan mereka sejak kecil. Neuroplastisitas otak kalangan yang terakhir ini mengalami kendala untuk berfungsi dengan baik, bisa karena bentuk pendidikan, pembelajaran, pengasuhan, kegiatan bermain, dan pergaulan yang sudah diterima dan dialami mereka sejak kecil memang telah mematikan kelenturan dan kreativitas kerja sel-sel saraf dalam otak mereka. 

Jangan ganggu aku dengan kenyataan! Aku sudah senang hidup dalam duniaku sendiri! Sana, sana, pergi, jangan ganggu kenikmatanku! Fakta-fakta menggigit aku! 

Agama bukan saja membentuk identitas pribadi seseorang, tapi juga identitas komunal, yang harus dijaga dan dipertahankan, apapun juga taruhannya, termasuk menindas kelompok-kelompok lain yang tidak sejalan atau yang berbeda keyakinan. 

Demi tetap setia pada identitas komunal ini, atau demi solidaritas komunal, seorang beragama yang sudah dewasa dapat terpaksa melakukan denial atas fakta-fakta nyata yang sebagian besar orang ketahui dan akui, misalnya fakta bahwa kelompok-kelompok lain yang berbeda adalah juga sesama warganegara dan sesama manusia, yang juga berhak hidup dengan bebas.  

Denial dilakukan bukan saja karena seseorang mau tetap setia pada identitas komunal, tapi juga karena komunitasnya mengontrolnya dengan kuat. Ketimbang menolak dan melawan kontrol kuat komunitasnya atas dirinya, yang akan berakibat fatal bagi kehidupannya dalam banyak segi, juga segi ekonomi, seorang beragama lebih memilih hidup aman dengan melakukan denial. Dalam konteks ini, memilih hidup aman dan melakukan denial, dan takluk total pada komunitas pengontrol, ketimbang membuka diri pada fakta dan berani berbeda dari komunitas, adalah suatu keputusan politis individual seorang beragama, yang dengan sadar diambilnya, meskipun hati nuraninya mungkin menentang keputusannya ini.

Kondisi dikucilkan atau dibuang dari suatu komunitas sosial tempat seseorang dilahirkan, dibesarkan dan hidup, dengan akibat kehilangan semua status, hak dan kewajibannya, dinamakan ostrasisme (Inggris: ostracism; kata kerja Yunani ostrakizein bermakna “membuang”, “mengucilkan”). Benarlah pernyataan psikolog dari Universitas Purdue, Prof. Kip Williams, bahwa “Ostrasisme bukan semata-mata suatu bentuk kematian sosial, tapi juga berakibat kematian. Sang organisme tidak bisa melindungi dirinya sendiri lagi dari para predator, tidak dapat memperoleh makanan yang cukup, dan lazimnya mati dalam waktu singkat.” 

Tidak heran, cuma para pemberani yang tegar, tangguh dan siap menderita yang bisa menjadi para pelintas batas-batas komunitas-komunitas sosialreligius asali mereka, lalu masuk ke dunia-dunia lain yang berbeda dalam sangat banyak hal.


Janji-janji agama

Selain memberi identitas dan manfaat ekonomi, agama juga, umumnya dalam batas-batas tertentu, tetapi bisa juga sangat kuat, memberi rasa aman dan rasa tenteram lewat janji-janji tertentu yang diberikannya, misalnya janji hidup akan diberkati dan berkelimpahan dan selalu sukses, atau janji akan masuk surga dan menerima pahala besar setelah kematian, apalagi mati sebagai martir. Mereka yakin sekali bahwa “there is a pie in the sky if we die!” 

Meskipun rasa aman dan tenteram ini seringkali terbukti palsu dan meninabobokan orang, dan hujan duit dari langit tidak kunjung turun, seorang beragama lebih memilih melakukan denial atas fakta-fakta, ketimbang kehilangan rasa aman dan rasa tenteram yang diberikan janji-janji keagamaan ini. Setuju atau tidak setuju, benarlah apa yang pernah dikatakan bahwa agama adalah sejenis narkotik yang mampu mencandu dan membius orang. Ketika kita terbius, kita kehilangan kontrol atas diri kita sendiri.

Tidaklah salah jika ada sebuah ucapan yang sangat menyentak, ini: “Pakailah agama sebagai pemoles wajah dan kedok bagus anda jika anda ingin menggiring sekumpulan besar manusia yang tidak terpelajar dan yang terpelajar, khususnya manusia-manusia yang bodoh, ke tujuan-tujuan politik sektarian anda dan ke pemuasan habis-habisan kerakusan anda terhadap uang!” 

Yuup, agama-agama bisa menjadikan anda manusia-manusia besar, para mahatma, seperti Martin Luther King, Jr., Desmond Tutu, atau Mahatma Gandhi, atau Dalai Lama XIV, atau Abdurrahman Wahid. Tetapi sebaliknya juga betul: agama-agama bisa menjadikan anda manusia-manusia kerdil sekerdil-kerdilnya, bahkan semut-semut dan kunang-kunang jauh lebih besar jika dikomparasi dengan anda yang kerdil ini. Tetapi, tentu saja, anda, rekan-rekan saya, tidaklah kerdil semacam ini.


Fanatisme

Fanatisme yang terbangun dalam mental si agamawan lewat indoktrinasi sejak kecil, juga harus ditunjuk sebagai penyebab denial dalam dirinya. Semakin seseorang “committed and fanatic” pada agamanya, semakin banyak denial yang dilakukannya, alhasil semakin menjauhkannya dari realitas objektif. 

Fanatisme terhadap apapun selalu merusak mental seorang manusia; membuatnya tidak bisa belajar kearifan dan pengetahuan dari pihak-pihak lain yang berbeda. Fanatisme apapun membuat seseorang hanya mau memakai sebuah kacamata kuda hitam tebal dalam memandang realitas dunia yang sebetulnya dipenuhi warna-warni bak setengah lingkaran pelangi yang muncul sehabis hujan dan langit cerah.

Sumber besar denialisme adalah fanatisme buta yang dibangun secara bertahap lewat kegiatan cuci otak. Fanatisme buta ini menutup orang dari pengetahuan objektif mengenai berbagai realitas kehidupan, dari hati nurani yang tulus dan cerdas, dan dari martabat diri yang semustinya dijaga setiap orang yang sadar. 


Kepentingan duit

Jangan dilupakan, agama juga adalah bisnis, yang darinya orang menerima manfaat-manfaat dan keuntungan-keuntungan ekonomi, besar atau kecil. Meragukan agama sendiri, apalagi meninggalkannya, akan dapat berdampak fatal pada kehidupan ekonomi seorang beragama. Dapat terjadi, alih-alih menjadi tuan atas uang, para agamawan lebih cenderung memilih untuk menjadi hamba uang. Demi mendapatkan dan mempertahankan keuntungan-keuntungan ekonomi, apalagi keuntungan ekonomi yang besar yang diberikan agamanya, seorang beragama jelas akan memilih denial ketimbang bersikap kritis pada ketamakan dirinya sendiri, pada agamanya, atau terbuka pada fakta-fakta sosial dalam masyarakatnya. 

Tidak salah jika banyak orang bijak yang menyatakan bahwa Tuhan sebenarnya bagi manusia pada umumnya adalah ketamakan pribadi. Ketika ketamakan pribadi ini mengendalikan seseorang, maka bukan lagi agamanya yang mengendalikan dirinya, tetapi sebaliknya: dirinyalah yang mengendalikan agamanya. Ini memang luar biasa: agama cuma jadi alat kamuflase, dan kebanyakan umat tidak bisa melihat kamuflase ini. Di tangan orang-orang semacam inilah yang ada di seluruh dunia, agama-agama terus tergerus dan mengalami pendangkalan substansi, makna, fungsi dan tujuan. 

Dalam zaman modern ini, orang yang sangat kaya tetapi juga sangat dermawan bagi dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg tentu saja sangat langka. Bagi mereka, yang sekarang ini dijuluki para kapitalis filantropis, orang itu baru betul-betul kaya raya kalau mereka rela menyumbangkan nyaris seluruh kekayaan besar mereka untuk pencerdasan manusia sedunia dan pembangunan peradaban dan kehidupan yang makin baik bagi sebanyak mungkin orang. Orang yang sudah sangat kaya tetapi masih terus tamak mencari dan menghimpun kekayaan buat kepentingan diri mereka sendiri lewat segala cara, adalah orang yang masih sangat kekurangan, masih sangat miskin, tidak pernah sungguh-sungguh kaya raya. 

Mungkin sosok besar ini seekor organisme alien, atau seekor rayap raksasa, pemakan kertas! Aliens semacam ini banyak loh.

Orang kaya yang semacam ini tidak berbeda pada hakikat dasarnya dari orang yang makan sangat banyak tetapi bertubuh tetap kurus karena mengalami gangguan parah pada organ pencernaan dan sistem metabolisme tubuh mereka. Merekalah para kapitalis rakus, serakus-rakusnya; dan mereka memenuhi dunia kita dewasa ini. Mereka menutup mati hati dan mata akal mereka sehingga mereka tidak bisa atau tidak mau melihat dan menerima fakta bahwa kapitalisme rakus sedang memperlebar jurang pendapatan per kepala antara kaum kaya dan kaum miskin. Mereka sungguh-sungguh hidup dalam denial, yang mereka nikmati saja dengan asyik seperti asyiknya orang mengunyah permen karet yang baru dimasukkan ke dalam mulut. 


Kepentingan politik

Agama adalah politik, karena setiap agama, baik agama kaum minoritas maupun agama kaum mayoritas, adalah sebuah pranata sosial yang ingin mengatur dan mengendalikan masyarakat ke arah tujuan-tujuan yang diatur dalam kitab suci ataupun yang digariskan para pemimpin umat. Orang yang mengklaim bahwa agamanya hanya bergerak di bidang kerohanian saja dan disiarkan untuk membawa orang ke surga after death, sangat tidak jujur, atau mungkin naif, sebab dia tidak menyadari bahwa di ujung setiap kegiatan siar agama yang sukses menunggu persoalan politik yang besar: bagaimana mengatur masyarakat yang telah dikuasai suatu agama, dengan menenggelamkan agama-agama lain yang sudah ada sebelumnya. 

Nah, telah banyak terjadi, demi mempertahankan dan menggolkan tujuan dan kepentingan politik agama mereka, kaum agamawan lebih memilih melakukan denial, ketimbang menerima fakta-fakta yang tak sejalan dengan kepentingan politik mereka. 

Denialisme karena fanatisme sempit dan picik tumbuh bukan saja dalam dunia agama-agama, tapi juga dalam dunia ideologi-ideologi besar. Seseorang memilih untuk melakukan denialisme bukan hanya karena dia mau membela dengan membuta agamanya sendiri, tetapi juga karena mau membela habis-habisan partai politiknya sendiri, aliran ideologisnya, atau sistem ekonominya sendiri (entah kapitalisme atau sosialisme, dll), atau apapun yang berhubungan dengan ide-ide lain yang diabsolutkannya sehingga menjadi ide-ide yang bantut dan tertutup dan dapat mengancam perdamaian global.

Dalam dunia politik, apalagi jika orang mencari duit di dunia ini, denialisme akan membuat siapapun membutakan diri terhadap fakta-fakta objektif yang dikuak oleh ilmu pengetahuan mengenai banyak hal: rekam jejak sejarah kehidupan sang tokoh pemimpin yang diidolakan, ideologi politis separatis yang dibela, partai-partai dan kelompok-kelompok yang menjadi mitra koalisinya, kampanye-kampanye hitam yang mempermainkan berbagai isu SARA, serangan politik uang, keutuhan negara sendiri, perilaku anti-toleransi, kasus-kasus KKN, dan banyak lagi.

Sekarang ini, misalnya, sangat banyak para ideolog yang menolak fakta real bahwa perubahan iklim sedang terjadi di planet Bumi kita, yang berdampingan dengan pemanasan global, sebagai efek gas rumah kaca. Kondisi buruk ini akan berakibat sangat mengerikan bagi umat manusia dan semua spesies lain dalam beberapa dekade mendatang jika gas CO2 dan gas-gas lain yang masuk ke atmosfir Bumi tidak berhasil dikurangi dalam jumlah yang signifikan. 

Gas CO2 khususnya yang makin menumpuk dan tersebar di atmosfir Bumi kini sedang membentuk semacam selimut tebal yang menghalangi pembuangan sebagian panas dari muka Bumi (yang berasal dari cahaya Matahari, banyak produk teknologi, atau berbagai kegiatan banyak pabrik, dll) yang seharusnya mengalir keluar, masuk ke angkasa luar. Akibatnya, panas itu memantul balik ke permukaan Bumi; alhasil, menaikkan suhu global yang selanjutnya sedang mencairkan es-es di kutub-kutub Bumi.

Dalam beberapa dekade mendatang, jika pemanasan global yang makin meningkat ini tidak dapat diatasi dengan efektif, banyak bagian benua-benua akan tenggelam. Perpindahan penduduk dunia besar-besaran dan kerusakan berbagai ekosistem akan terjadi dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan dalam nyaris semua bidang kehidupan.

Yang sangat memprihatinkan adalah kenyataan bahwa masih ada sangat banyak orang yang menyangkal fakta perubahan iklim dan pemanasan global ini. Mereka yang disebut sebagai “climate change deniers” sering menggunakan data tidak lengkap atau data yang setengah benar atau dipalsukan dalam banyak perdebatan politik tentang fakta perubahan iklim dunia ini.  

Perubahan iklim itu real, dan sedang mengancam banyak spesies!

Saya pernah mendengar suatu alasan keagamaan dipakai para penyangkal ini, yakni kepercayaan keagamaan pada janji Allah bahwa air bah tidak akan pernah lagi melanda permukaan Bumi sebagaimana diucapkan Allah sehabis air bah melanda dunia konon pada zaman Nabi Nuh seperti dituturkan dalam kitab Kejadian (9:8-17). Mereka memilih untuk jauh lebih percaya pada janji Allah dalam kitab suci Yahudi ini ketimbang pada para saintis masa kini yang menyimpulkan sesuatu berdasarkan bukti-bukti. 

Pada 13 November 2014 sekitar 400 pendemo membenamkan kepala mereka masing-masing ke dalam pasir di Pantai Bondi, Sydney, Australia, sebagai aksi protes simbolik kepada para penyangkal perubahan iklim, sebelum pertemuan para pemimpin negara-negara G-20 yang tahun itu akan berlangsung di Brisbane. Empat ratus orang ini bersujud hingga kepala terbenam dalam pasir tentu bukan untuk menyembah Nyai Loro Kidul di Pantai Bondi itu!

Mereka tidak sedang menyembah sang Dewi Laut loh! Mereka sedang berdemo!

Dangkal atau salah pengetahuan

Jangan juga dilupakan, denial dilakukan orang beragama karena si agamawan ini tidak atau kurang memiliki ilmu pengetahuan, sehingga buta pada fakta-fakta, atau terus-menerus dicekoki banyak pengetahuan yang salah atau pseudosains. 

Ketimbang berlelah-lelah mempelajari sains terus-menerus yang membuat orang dapat berpandangan makin jauh dan luas dan mengenal fakta-fakta dengan objektif, seorang agamawan umumnya lebih suka melakukan denial atas semua fakta sains. Denial ini dilakukannya dengan berlindung pada teks-teks suci yang olehnya tidak pernah dengan kritis dipertanyakan kebenarannya, relevansinya, manfaatnya buat dunia dan umat manusia, dan nilai-nilai kebajikannya. 

Dalam sikon ini, agama yang mustinya membawa setiap penganutnya ke dalam dunia yang terang dan ke dalam kecerdasan, malah menjerumuskan mereka ke dalam dunia gelap kebodohan dan kedangkalan. Banyak organisasi dengan basis keagamaan (terang-terangan atau tersamar) didirikan dan bergerak untuk tujuan ini: memperbodoh manusia dengan data dan info-info palsu tentang fakta-fakta. 

Misalnya organisasi keagamaan yang sangat aktif mempropagandakan doktrin keagamaan Bumi Datar, Flat Earth, yang jelas-jelas melawan sangat banyak fakta sains yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Begitu juga, sains evolusi biologis, evolusi kosmik, dan evolusi sosialbudaya, yang sudah teruji oleh banyak bukti lintasilmu, dilecehkan dan dibuang begitu saja oleh sangat banyak penganut agama-agama karena mereka telah menjadi korban cekokan pseudosains yang dinamakan kreasionisme, “Intelligent Design”, dan “Bumi Usia Muda” (Young Earth), maksudnya: umur planet Bumi kita, bagi mereka, baru 6.000 tahun, paling banter 10.000 tahun, padahal lewat kajian ilmiah kita ketahui bahwa usia sistem Matahari kita, termasuk planet Bumi, 4,6 milyar tahun./3/

Bagaimana kalangan Bumi Bulat dan kalangan Bumi Datar bisa berdamai? Akar persoalannya bukan pada fakta sains bahwa Bumi itu bulat, tapi pada rasa terancam dalam diri kalangan pembela Bumi Datar bahwa ideologi religiopolitik mereka akan lenyap!

Sesungguhnya, pseudoscience atau junk science sedang mengancam generasi muda banyak agama di dunia dewasa ini, yang lebih memilih denial ketimbang menerima fakta-fakta ilmiah.

Pseudoscience atau sains gadungan, sesuai namanya, adalah sekumpulan kepercayaan atau tindakan-tindakan yang dengan keliru dipandang ilmiah, padahal tidak dibangun berdasarkan fakta-fakta ilmiah dan metode-metode riset ilmiah. Cara paling mudah untuk mencirikan suatu sains itu sains gadungan adalah dengan memperhatikan sikap dan perilaku si penyusunnya: jika dia merasa selalu terancam dengan teori-teorinya dan tidak bersedia ditantang oleh para saintis lain untuk dengan terbuka membuktikan kebenaran atau kesalahan teori-teorinya, dan kegunaannya untuk dunia keilmuwan yang lebih luas dan terus berkembang lewat debat tesis versus antitesis, maka dia adalah seorang saintis gadungan./4/

Jika anda belum tahu apa itu junk science, baiklah saya jelaskan. Sulit mencari terjemahan yang pas untuk junk science. Perbolehkan saya menyebutnya “sains rongsokan”, yaitu hal-hal yang diklaim ilmiah tetapi sesungguhnya tidak pernah terbukti, atau telah terbukti salah total, tidak memiliki basis keilmuwan yang akurat, dan, ini yang terpenting, digunakan untuk menggolkan tujuan-tujuan sosioekonomi dan sosiopolitik seseorang atau sekelompok orang. Yang mereka perjuangkan dan kedepankan bukan ilmu pengetahuan, tetapi ideologi atau worldview mereka; dan sains digunakan sekenanya hanya sebagai pupur kosmetik saja.

Pada intinya, junk science adalah kepentingan sosiopolitik dan ekonomi yang dibungkus tidak rapi dengan dalih-dalih rongsokan yang diklaim ilmiah dengan memakai landasan bukti-bukti, data serta info palsu, reka-rekaan atau periferial. Para pembela junk science ya bukan saintis, tetapi orang-orang yang mencari dan mengejar keuntungan ekonomi dan politik lewat proposisi-proposisi teoretis yang mereka bangun sendiri yang diklaim ilmiah oleh mereka sendiri. Para junk scientists adalah para pelacur dalam dunia sains, sama sekali bukan para saintis. Tetapi, pengaruh mereka bisa luas khususnya di kalangan yang buta ilmu pengetahuan, tetapi sangat fanatik mempertahankan pandangan dunia atau ideologi mereka, entah ideologi sekular atau ideologi keagamaan


Amygdala yang tidak aktif

Kita semua sudah tahu bahwa sesuatu yang kita lakukan terus berulang-ulang, akan menjadi bagian dari kebiasaan kita yang akhirnya mendarahdaging, lalu menjadi watak yang menetap sebagai bagian dari jati diri kita. Begitulah yang akan terjadi pada anda jika anda tidak henti-hentinya menyangkal fakta-fakta. Hidup “in denial of reality” akan menjadi watak anda. 

Jika sesuatu itu A, tetapi anda terus menyangkalinya dan anda terus ngotot menyatakan itu B, maka denialisme sudah menjadi kebiasaan anda. Mengatakan B tentang sesuatu yang sebenarnya A, sama artinya dengan berdusta, berbohong, dalam tingkat patologi mental yang sudah parah. 
Satu kali bohong, amygdala sangat aktif memperingatkan anda. Sering bohong, amygdala akhirnya tidak aktif lagi. BOHONG atau SANGKAL FAKTA pun menjadi WATAK anda! OTAK anda menyesuaikan diri pada kemauan dan kelakuan anda loh!

Para neurosaintis sudah menemukan bukti-bukti bahwa ketika anda pertama kali berdusta atau menyangkal fakta, emosi anda terusik dan memperingatkan anda bahwa kelakuan anda itu tidak benar dan tidak sesuai dengan citra diri dan martabat anda. Pada saat kondisi ini terjadi dalam mental anda, pusat emosi dalam organ otak anda yang dinamakan amygdala terpindai sangat aktif.

Tetapi ketika anda selalu melawan peringatan mental yang muncul lewat aktivitas kuat amygdala, dan mengabaikan peringatan ini berkali-kali, maka aktivitas amygdala makin lemah, dan akhirnya menjadi kurang atau tidak aktif pada saat-saat selanjutnya ketika anda berdusta atau menyangkali fakta-fakta. Saat amygdala sudah tidak aktif lagi, maka berbohong dan menyangkal fakta-fakta sudah menjadi kebiasaan anda, dan lebih buruk lagi: sudah menjadi bagian dari watak anda. Tentang kajian ini, lihat Neil Garrett, Stephanie C. Lazzaro, et al., “The Brain Adapts to Dishonesty”./5/ 

Dusta, kebohongan, dan hidup dalam penyangkalan atas fakta, tidak melukai akal dan batin anda lagi. Gerigi tajam cakram nurani anda semua sudah tumpul, tidak menusuk, dan tidak menimbulkan rasa sakit lagi saat berputar; dan yang menumpulkannya adalah anda sendiri dan kelompok anda. Anda bayangkanlah, masyarakat jenis apa yang terbentuk jika semua warganya sudah terperosok ke dalam kondisi mental semacam ini! Inilah yang saya sudah sebut di awal tulisan ini sebagai efek bumerang sebagai muara dari terus-menerus hidup in denial of reality. Tentu saja menyedihkan, dan menyeramkan.

Ingatlah, penyangkalan atas fakta atau dusta dan kebohongan itu bak sebuah bola salju yang sedang menggelinding di atas hamparan luas salju: semula bolanya kecil, makin lama niscaya makin besar, makin besar, dan terlihat mengerikan! Inilah A SNOWBALL EFFECT.

Ini juga ibarat anda tergelincir dari puncak sebuah lereng luas yang licin. Makin lama, makin ke bawah, tubuh anda menggelinding dengan makin cepat, dan bisa berakhir dengan benturan keras tubuh anda dengan sebuah batu besar atau sebuah pohon besar, yang akan merenggut nyawa anda. Inilah yang disebut A SLIPPERY SLOPE


“Playing the victim”  

Dalam kondisi yang sudah sangat parah, hidup in denial pada akhirnya bermuara bukan saja pada sindrom efek bumerang, tetapi juga pada apa yang para psikolog dan psikiater namakan sindrom self-victimization atau playing the victim atau victim playing. Prosesnya umumnya berlangsung begini: Si A yang keji, jahat dan tidak bermoral, yang nuraninya sudah mati, sudah berulangkali mau mengorbankan si B, si C, si D hingga si Z, dan komunitas-komunitas mereka masing-masing, lewat cara-cara yang keji, bejad, tak masuk akal, dan melawan hukum. 

“Self-victimization” alias pura-pura menjadi korban atau mangsa, padahal predator!

Si A semula sangat yakin segala cara yang dia telah dan sedang jalankan akan berhasil membuat lawan-lawannya menjadi korban-korban yang jatuh bergelimpangan dan sekarat. Tetapi ketika waktu berjalan, calon-calon korban si A malah terlihat bertahan kokoh dan akhirnya malah berada di atas si A. Melihat situasi dan kondisi yang berbalik arah ini, dan mengetahui dirinya bisa terancam bahaya dan pembalasan, si A yang mulai stres berat segera memainkan peran sebagai korban atau mangsa lawan-lawannya semula, tidak lagi sebagai predator atau pemangsa atau orang yang akan mengorbankan. Ibaratnya, anak-anak panah yang semula dia lepaskan dengan kencang ke lawan-lawannya kini dia lesatkan kepada dirinya sendiri. Self-victimization. Caranya? 

Ya, si A dengan licik mulai menyusun dan menyebarkan narasi-narasi fiktif lewat berbagai saluran yang menggambarkan dirinya seolah-olah sedang menjadi bidikan lawan-lawannya itu untuk dikorbankan dan dibinasakan. Korban sekarang diarahkannya sendiri kepada dirinya sendiri, bukan kepada lawan-lawannya. Dalam ketidakberdayaan dan bayangan jelas akan mengalami kekalahan yang besar, tujuan si A menebar narasi-narasi rekaannya itu tidak lain adalah untuk, lewat kamuflase, menarik perhatian orang, simpati, belas kasihan dan pembelaan masyarakat atau orang lain kepada dirinya sendiri. Jika si A makin piawai memainkan peran sebagai korban, maka si A lazimnya dijuluki sebagai korban profesional

Untungnya, dalam kebanyakan kasus, strategi self-victimization atau playing the victim tidak efektif, alias gagal total. Ya namanya juga playing alias pretending. Tidak ada orang yang cerdas dan tahu sikon yang real yang mau masuk perangkap strategi orang yang telah kalah ini. Ketika ini terjadi, denial dalam dirinya makin kuat dan makin kuat terus. Perlu ada pertolongan terulur kepadanya dari para pakar kesehatan.


Disonansi Kognitif

Ada suatu sindroma lain yang juga masuk ke dalam kategori denialisme, yakni sindroma Disonansi Kognitif (DK). Uraian yang segera saya berikan ini adalah parafrasis dari teori DK yang awalnya diajukan oleh Leon Festinger dkk./6/

Setiap gerakan sosial (politis, ekonomis, ekologis, militeristik, dll) pasti memiliki dan mempertahankan seperangkat ide-ide, keyakinan, komitmen, visi dan misi, cita-cita, dan sarana serta wahana pelegitimasi ide-ide ini, yang keseluruhannya lazim dinamakan ideologi.

Banyak komunitas sosial ideologis mengalami fakta real yang berat dan membuat hati dan pikiran galau dan tertekan ("kognitif"), yakni ideologi mereka gagal diwujudkan, atau meleset dan lari dari fakta-fakta nyata ("disonansi") dalam masyarakat dan dunia. 

Alih-alih bersikap luwes mencari dan merumuskan ideologi baru, kegagalan ideologis yang telak ini malah dengan sangat kuat mendorong komunitas sosial pendukungnya untuk mati-matian mencari dan menemukan berbagai cara dan jalan untuk tetap mempertahankan komunitas mereka dan membenarkan ideologi mereka yang sudah jelas-jelas gagal atau meleset. 

Usaha yang paling umum dilakukan adalah merasionalisasi atau mengakal-akali ideologi dan pergerakan mereka yang sudah gagal telak atau sudah lari dari fakta-fakta. 

Ketimbang pakai nalar dan analisis rasional, para korban DK memakai cara akal-akalan. Kiat akal-akalan ini menjadi benteng perlindungan mereka dalam sikon mental DK yang sedang mereka tanggung dengan sangat menyakitkan. 

Dekonstruksi dan rekonstruksi rasional, bernalar dan ilmiah tidak mereka adakan atas ideologi mereka. Ketika akal-akalan mereka tidak diakui dan tidak diterima dunia luar (tentu saja!), mereka malah makin percaya bahwa akal-akalan mereka makin benar; dan kalau orang lain  menolak mereka, mereka akal-akalan lagi dengan mendeklarasikan keyakinan fanatik mereka bahwa "Tentu saja kami ditolak, karena kami komunitas istimewa (dapat dibaca: komunitas milik Tuhan), sedangkan mereka yang di luar tidak istimewa (dapat dibaca: komunitas kafir, kepunyaan Setan)."

Lalu, sebagai kompensasi dari kegalauan dan depresi kognitif yang timbul karena kegagalan atau disonansi ideologi dan keyakinan mereka semula, mereka mengumbar desakan depresi kognitif ini keluar, lewat kegiatan besar merayu dan mencari para pengikut baru lewat propaganda gencar ideologi mereka yang sudah keliru dan, karenanya, diakal-akalin supaya tampak tidak keliru. Tujuan evangelisasi propagandis ideologi ini ya jelas: untuk mendapatkan ketenangan batin jika masih ada orang yang mau masuk ke komunitas mereka yang faktual sudah gagal.

Bagi mereka, sekalipun ideologi mereka sudah terbukti salah dan lari dari fakta, tapi jika ada anggota-anggota baru yang masuk, itu adalah bukti bahwa ideologi mereka yang sudah salah itu dapat dipercaya lagi sebagai sebuah ideologi yang benar. Buktinya? Tuh ada petobat dan anggota baru. Jadi, sudah salah tapi tetap yakin benar. Tentu saja, petobat atau anggota baru ini juga mengidap sindroma DK.

Kondisi itu bak seekor kucing yang sibuk bermain mengejar buntutnya sendiri. Tak ada jalan keluar. Tak ada yang diraih. Tapi hanya muter-muter di tempat, puyeng sendiri, mabuk sendiri, stres sendiri, karena mereka terus-menerus lari dari fakta yang telah sangat melukai mereka. Itulah kondisi mental kognitif siapapun yang terkena sindroma DK. Pada satu sisi, mereka hebat karena gigih; pada sisi lainnya, mereka buta dan kerdil karena gigih dan bertahan dalam kegagalan dan dalam pelarian dari fakta-fakta yang sedang dan terus menggigit dan mengunyah jantung mereka.


Mental pecundang  

Ketahuilah juga, siapapun yang mati-matian hidup “in denial” dan membela taklid buta ideologi apapun (yang religius dan yang non-religius), pada akhirnya akan menjadi para pecundang, kalah, dan mau tak mau akan berakhir dalam kematian dan kepunahan, secara individual dan secara kolektif. Mengapa?

Ini jawabannya: Adaptasi, fleksibilitas, keterbukaan terus-menerus pada pembaruan, penyesuaian dan perubahan, dan dinamika, akan membuat siapapun dan ideologi apapun bertahan, berkembang dan makin bermanfaat buat pembangunan kemanusiaan dan peradaban. Inilah hukum evolusi yang berlaku di seantero jagat raya. Evolusi alamiah membutuhkan waktu sangat panjang. Kini, dengan bantuan sains-tek modern, kita dapat mempercepat jalannya evolusi dalam bidang apapun, menjadi superevolusi, termasuk mempercepat evolusi fisik dan mental Homo sapiens lewat teknik rekayasa genetik yang dinamakan DNA-editing (CRISPR-Cas9) yang kini tekniknya sudah makin bervariasi dan makin cermat.

Sesuatu yang hidup itu pasti berubah; hanya sesuatu yang sudah mati tidak berubah lagi. Hanya sesuatu yang berubah, akan punya masa depan, karena dimensi ruangwaktu dalam jagat raya ini tidak statis, tetapi dinamis, terus mengembang, tanpa garis akhir.


Jalan keluar

Apakah ada jalan keluar untuk kita bisa terbebas dari kekuatan denialisme dalam segala bidang kehidupan kita? Menurut saya, ada. 

Hanya orang yang melihat hidup beragama sebagai hidup dalam suatu ziarah yang belum selesai, dan yang terus-menerus membuka diri pada berbagai kemungkinan baru di masa depan, kemungkinan-kemungkinan baru yang juga ditawarkan sains modern, dan menempatkan kejujuran, kebaikan hati dan kemanusiaan jauh di atas agama atau ideologinya, akan bisa luput dari kekuatan denialisme, yang setiap saat bisa mendatangi dan mengancamnya. 

Hanya jika orang sudah bisa berpindah dari kesadaran naif dan picik, masuk ke kesadaran kritis dan membebaskan, dalam hubungan dirinya dengan dunia ide-ide apapun atau dengan kondisi-kondisi apapun, akan dapat lepas dari denialisme lalu akan dapat hidup dengan autentik dan bermarwah. Di tangan orang-orang semacam inilah agama, politik dan ide-ide besar dan kehidupan akan memberi manfaat besar bagi umat manusia.

Supaya dalam segala hal anda tidak terjatuh ke dalam denialisme, ujilah setiap fenomena lewat tiga sarana berikut ini dengan seksama. 

Pertama, pakailah sarana ilmu pengetahuan saat anda mau mengetahui mana fakta dan mana fiksi, mana sejarah dan mana mitos, dan dengan landasan ilmu pengetahuan ambillah fakta dan buanglah fiksi, raihlah sejarah dan singkirkan mitos.

Kedua, pakailah sarana hati nurani yang jujur dan cerdas dalam anda menjatuhkan pilihan saat anda berhadapan dengan kebenaran atau kebohongan, kebaikan atau keburukan. Hati nurani dapat diandalkan sejauh menerima masukan tentang berbagai hal dari ilmu pengetahuan.

Ketiga, jadikanlah martabat diri anda sebagai fondasi moral saat anda harus memilih apapun, alhasil anda tidak akan menjual diri anda berapapun harga yang ditawarkan. Dengan mempertahankan martabat atau marwah diri anda, anda akan selalu bisa menjadi seorang mahatma. 

Selain itu, kita bisa melakukan sesuatu yang akan menolong teman-teman atau anggota keluarga kita yang sedang hidup dalam penyangkalan atas fakta-fakta dan kebohongan yang terus-menerus. Yaitu, kita perlu membangun komunitas-komunitas alternatif yang berbeda ideologi, pilihan pengetahuan, nilai-nilai dan cara hidup, yang menolak denialisme dan menerima fakta-fakta dengan terbuka. Orang-orang yang sedang terpenjara dalam denial perlu kita bawa dan libatkan dalam pergaulan yang menetap dan percakapan yang ramah dan bersahabat dengan anggota-anggota komunitas-komunitas alternatif ini, untuk mereka akhirnya dapat memandang dunia ini dengan lebih luas dan tidak melarikan diri dari fakta-fakta, lalu mengalami perubahan dan kesembuhan mental.   


Penutup

Jika ada orang yang ngotot bertahan terus dalam denial, ini nasihat saya: Jika anda punya mata, janganlah melihat. Jika anda punya telinga, janganlah mendengar. Sebab anda mau lihat dan dengar hanya hal-hal yang anda mau lihat dan dengar saja, padahal realitas yang ada berbeda sama sekali. Hiduplah terus di luar masyarakat umum, di luar realitas objektif, sampai anda wafat tanpa makna sama sekali. Anda pernah hidup tapi seolah anda tak pernah hidup. Anda pernah ada, tapi seolah anda tidak pernah lahir. Kesia-siaan.

Tetapi jika anda terbuka menerima fakta-fakta, sekalipun fakta-fakta ini tidak sejalan dengan kemauan dan keyakinan anda semula, atau semula menyiksa anda, dan anda seterusnya berubah, dan mau hidup realistik, anda adalah seorang besar.

Akhirulkalam, mari kita keluar dari denialisme, jangan biarkan diri kita terus dipenjara olehnya, supaya kita bisa menyumbang sesuatu yang bermakna dan agung buat dunia ini, buat ilmu pengetahuan, buat agama-agama, buat ide-ide besar, dan buat kemanusiaan global.


31 Juli 2012

Salam,
ioanes rakhmat 

Note:
Editing mutakhir 25 Januari 2017

NB: Tulisan ini adalah hasil copyan dari blog Ioanes Rakhmat (http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html). Semoga tulisan ini dapat mencerahkan dan membuka pengetahuan baru bagi pembaca.


Catatan-catatan

/1/ Lihat Kübler-Ross, On Death and Dying: What the Dying Have to Teach Doctors, Nurses, Clergy and Their Own Families (New York, etc.: Scribner, 1969; edisi tahun 2014 dilengkapi kata pengantar oleh Ira Byock. Edisi paperback Agustus 2014). Lebih jauh, lihat juga Kübler-Ross dan David Kessler, On Grief and Grieving: Finding the Meaning of Grief Through the Five Stages of Loss (kata pengantar oleh Maria Shriver; New York, NY.: Scribner, 2005. Edisi paperback Agustus 2014), khususnya bab 1 (hlm. 7-28).  

/2/ Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006), hlm. ix-x. 

/3/ Keyakinan bahwa planet Bumi baru berusia 6.000 tahun sudah dimunculkan berabad-abad lampau, persisnya pada abad ke-17, oleh literalis Katolik yang menjadi uskup agung Almargh yang bernama James Usher. Menurutnya, persis di hari Minggu, 23 Oktober 4004 SM, Tuhan Allah menciptakan langit dan Bumi. Pada sisi lain, dengan mengkaji terutama meteor-meteor, dengan menggunakan teknik radioactive dating, yang khususnya terfokus pada isotop-isotop yang tertinggal dari peluruhan radioaktif, para ilmuwan tiba pada kesimpulan bahwa sistem Matahari kita berusia 4,6 milyar tahun.  

/4/ Lebih jauh, lihat Michael Shermer, “What Is Pseudoscience?”, Scientific American, September 1, 2011, pada https://www.scientificamerican.com/article/what-is-pseudoscience/.

/5/ Neil Garrett, Stephanie C. Lazzaro, Dan Ariely, Tali Sharot, “The Brain Adapts to Dishonesty”, Nature Neuroscience 19 [1727-1732] 24 October 2016. Ini link ke file Pdf-nya http://www.nature.com/neuro/journal/v19/n12/pdf/nn.4426.pdf.

/6/ Gambaran tentang DK ini parafrasis dari teori DK yang disusun Leon Festinger, H.W. Riecken dan S. Schachter, When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World (New York: Harper and Row, 1956). Pemaparan lebih jauh teori ini, lihat Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance (Stanford, California: Stanford University Press, 1957). Pengenaan teori ini pada kekristenan perdana, lihat John G. Gager, Kingdom and Community: The Social World of Early Christianity (New Jersey: Prentice Hall, 1975) 37-49.

Kamis, 28 September 2017

Hermanto Purba: Sebuah Kesaksian Kekejian Orde Baru

"Sejak saya masih di dalam kandungan, hingga saya duduk di bangku SMA, saya hidup pada masa orde baru, dididik dengan gaya orde baru, dan bersekolah dengan sistem pendidikan orde baru. Namun, saya baru dengan jelas mengingat bagaimana rasanya hidup di era orde baru, mungkin sejak saya duduk di kelas III SD (tahun 1991)."

Saya sudah duduk di bangku kelas II SMA ketika Soeharto dipaksa lengser oleh ribuan massa pada Mei 1998 lalu. Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun itu, tidak mampu bertahan dari derasnya arus gelombang demonstrasi, yang diprakarsai oleh para mahasiswa tersebut. Setelah selama tujuh periode berturut-turut menjadi orang nomor satu di negeri ini, akhirnya Soeharto harus kembali menjadi masyarakat biasa.
Tiga puluh dua tahun, bukanlah waktu yang singkat. Konstitusi (sebelum diamandemen) yang pada saat itu mengizinkan seseorang dapat dipilih hingga berkali-kali menjadi presiden tanpa ada batasan waktu, memuluskan jalan Soeharto untuk menjadi Presiden Indonesia hingga lebih dari tiga dekade.
Sejak resmi menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 1968 lalu, hingga pada Sidang Umum MPR terakhir tahun 1998 lalu, seluruh anggota MPR-RI yang sekitar 80 persennya adalah pendukung Soeharto, secara bulat memilih Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia selama tujuh kali berturut-turut. Pastinya, itu bukan sebuah prestasi. Pemaksaan kehendak supaya tetap memilihnya sebagai presiden, ya.
Fraksi Golkar, Fraksi ABRI dan Fraksi Utusan Golongan, berhasil dikuasai oleh Soeharto. Fraksi tersisa, Fraksi PDI dan PPP, keberadaaannya seperti dikebiri oleh Soeharto. Kedua fraksi tersebut hanya sebagai pelengkap saja yang sama sekali tidak memiliki kekuatan. Dan bahkan, dalam banyak hal, kedua fraksi tersebut juga kerap sejalan dengan Soeharto.
Sejak saya masih di dalam kandungan, hingga saya duduk di bangku SMA, saya hidup pada masa orde baru, dididik dengan gaya orde baru, dan bersekolah dengan sistem pendidikan orde baru. Namun, saya baru dengan jelas mengingat bagaimana rasanya hidup di era orde baru, mungkin sejak saya duduk di kelas III SD (tahun 1991).
Mengenang masa-masa hidup di zaman orde baru, salah satunya yang masih sangat melekat di ingatan saya adalah menonton hanya satu stasiun televisi saja, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Tidak ada pilihan lain. Jika pada saat ini ada begitu banyak stasiun televisi yang setiap stasiun televisinya menawarkan program dan acara yang berbeda, pada masa orde baru, tidak mengenal hal yang demikian.
Pada masa orde baru, saya tidak mengenal Metro TV atau Kompas TV misalnya, yang sepanjang harinya menyajikan informasi dan berita menarik. Kami juga tidak pernah tahu RCTI, MNCTV, SCTV atau Indosiar yang menayangkan berbagai sinetron, hanya untuk sekedar menghibur diri. Kami juga tidak mengenal HBO Premium yang menayangkan film-film “box office,” atau BeinSport untuk menyaksikan liga-liga Eropa yang cukup memanjakan mata tersebut.
Copyimage https://indoprogress.com
Salah satu hal yang paling menyebalkan ketika sedang menonton TVRI ketika itu adalah di saat kita sedang asyik menonton acara yang sudah ditunggu-tunggu hingga seminggu lamanya, karena jam tayangnya memang hanya sekali seminggu, tiba-tiba “Liputan Khusus TVRI.” Rasanya sama seperti saat-saat menunggu malam minggu tiba, pada masa SMA dulu, dan tiba-tiba hujan deras turun serta petir bersahut-sahutan. Rasanya sungguh membuat hati gundah gulana.
Acara “Liputan Khusus TVRI” adalah sebuah acara untuk melaporkan kegiatan presiden ketika sedang berkunjung ke luar negeri atau ke daerah tertentu. Segala sesuatu dijelaskan di sana. Mulain dari masalah remeh, hingga masalah serius yang terkadang sangat sulit dicerna otak. Dan satu hal yang pasti, acara tersebut hanya akan menyampaikan segala hal-hal baik tentang presiden.
Jangan pernah membayangkan bahwa pada masa orde baru dulu, kita akan menyaksikan perdebatan sengit di layar kaca antara pihak yang pro dan kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Jangan pula berharap kita akan menyaksikan siaran berita yang menyampaikan berbagai kekurangan serta kritik kepada pemerintah. Karena hal tersebut adalah sesuatu yang tabuh dan sangat diharamkan.
TVRI pada era orde baru, mungkin agak sedikit mirip dengan TV nasional yang ada di Korea Utara saat ini. Stasiun televisi nasional tersebut menjadi corong pemerintah, sebagai media propaganda pemerintah. Lewat berbagai siaran berita di TVRI, kita akan disajikan berbagai pencapaian pemerintah yang kita tidak tahu kebenaran segala pencapaian tersebut. Karena kita tidak memiliki media pembanding sebagamana jamak kita temui saat ini.
Baik media televisi, radio dan media-media cetak lainnya secara serentak memaparkan keberhasilan dan kesuksesan pemerintah. Indonesia macan Asia, Indonesia sedang tinggal landas, Indonesia yang menganut demokrasi Pancasila, dan berbagai pemberitaan “positif” lainnya tentang Indonesia sudah sangat akrab di telinga kita pada waktu itu. Lantas, bagaiamana jika ada media yang ketahuan mengkritik pemerintah? Hukumnya jelas: diberedel.
Di permukaan Indonesia kelihatannya begitu demokratis. Namun di bawah, penuh dengan kekejian dan pemaksaan kehendak oleh pemerintah yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai demokrasi yang didengung-dengungkan oleh pemerintah tersebut. Sebab pada kenyataannya, bagi pemerintah semuanya harus sama. Bagaimana kalau berbeda? Ya, harus dipaksa supaya sama.
Jangan sekali-kali menyampaikan kritik kepada pemerintah jika tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, mungkin kira-kira demikian yang terjadi pada masa orde baru. Selama saya hidup di masa orde baru, belum pernah sekalipun ada pemberitaan tentang adanya protes atau demo yang dilakukan oleh masyarakat atas ketidakpuasannya terhadap pemerintah. Semuanya berjalan “tenang, aman dan damai.”
Suatu waktu, ketika saya masih kelas I SMA, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kami menugasi kami untuk membuat sebuah makalah tentang apa saja yang terkait dengan Indonesia. Tugas makalah tersebut harus kami selesaikan dalam waktu dua minggu.
Sungguh waktu yang amat singkat sebenarnya. Di samping kami harus mengerjakan dengan tulis tangan, karena belum ada komputer saat itu, kami juga begitu kesulitan untuk mencari bahan bacaan sebagai buku pendukung untuk penulisan makalah tersebut.
Hingga saya menemukan beberapa buku tulisan George Junus Aditjondro yang membahas tentang sisi lain (baca: berbagai pelanggaran hukum) yang dilakukan oleh Soeharto. Saya melahap semua buku-buku tersebut. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menulis makalah tentang Soeharto. Saya berpikir “toh” Soeharto adalah bagian dari Indonesia, jadi tidak melenceng dari tema.
Akhirnya, makalah yang saya beri judul “Melihat Soeharto dari Sudut Pandang Lain” itu selesai saya tulis. Betapa kaget dan takutnya guru PPKn kami membaca makalah tersebut. Menurut pengakuan guru PPKn kami tersebut, “saking” dianggap begitu berbahayanya makalah saya tersebut, sampai-sampai keberadaan makalah saya tersebut dibahas secara khusus pada rapat dewan guru.
Dan, untuk mendapatkan penjelasan tentang makalah tersebut, saya dipanggil ke kantor kepala sekolah. Lama saya di sana. Saya dinasehati, diberi masukan, hingga kami tiba pada sebuah kesimpulan: makalah saya tersebut harus dimusnahkan. Saya setuju makalah tersebut dimusnahkan, tetapi saya meminta supaya saya menyalin kembali isi makalah tersebut.
Namun tidak mendapat persetujuan dari sekolah. “Kalau informasi tentang makalah ini tercium sampai ke camat, habislah kita. Bisa-bisa sekolah kita ditutup nanti oleh pemerintah,” begitu kepala sekolah menyampaikan rasa khawatirannya. Saya, yang kebetulan sekolah di sebuah sekolah swasta, sangat mengerti ketakutan kepala sekolah tersebut. Akhirnya, makalah tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Menyedihkan bukan?
Copyimage https://indoprogress.com
Selain masalah makalah tersebut, saya juga pernah mengalami masa yang sangat menakutkan dan menegangkan atas perlakuan rezim orde baru. Ayah dan ibu saya kebetulan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ayah saya seorang guru PPKn di sebuah SMP di daerah saya, dan ibu saya seorang guru SD.
Gaji guru yang cukup kecil ketika itu, membuat orang tua saya belum mampu membanguan atau membeli rumah baru. Kami terpaksa harus tinggal di perumahan sekolah yang kondisi rumah tersebut sebenarnya sudah kurang layak untuk ditempati. Namun, kami harus tinggal di sana. Bertahun-tahun lamanya kami melewatkan hari-hari kami di rumah yang disediakan oleh pemerintah tersebut.
Hingga pada suatu waktu, ketika pemilu tahun 1997 dilaksanakan, ayah saya ketahuan tidak memilih Golkar. Keharusan bagi seorang PNS untuk loyal kepada pemerintah, menjadi sedikit bias waktu itu. Ada sebuah kewajiban tidak tertulis pada waktu itu bahwa seorang PNS “wajib” memilih Golkar. Jika di kemudian hari ketahuan ternyata tidak memilih organisasi berlambang pohon beringin tersebut, maka bersiaplah untuk menghadapi “bencana.”
Memang setiap perhelatan pemilu pada orde baru di desa tempat saya tinggal, sepanjang yang saya ingat, Golkar selalu unggul dengan jumlah suara yang sangat besar. Jangankan kalah, bahkan Golkar beberapa kali meraup hampir 100 persen suara pemilih. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah para pemilih ketika itu memilih Golkar dengan tulus? Tidak. Banyak yang dipaksa. Banyak pula yang ditekan dan ditakut-takuti.
Pemilihan pada masa orde baru yang disebut LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) itu, sepertinya tidak LUBER. Menjelang hari-H pemilihan, camat, kepala desa, dan seluruh perangkatnya, beserta para PNS secara terang-terangan melakukan kampanye supaya para calon pemilih menusuk Golkar di bilik-bilik suara ketika pemilu digelar.
Kembali lagi ke ayah saya tadi, saya bingung, dari mana pemerintah tahu kalau ayah saya tidak memilih Golkar. Setelah dipanggil beberapa kali ke kantor kecamatan, akhirnya ayah saya mengakui bahwa dia telah memilih Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ayah saya yang kebetulan adalah seorang guru PPKn, yang sedikit banyak tahu tentang peraturan dan perundang-undangan, beralasan bahwa tidak ada satu aturan pun yang mewajibkan PNS untuk memilih Golkar.
Hingga pada akhirnya, suatu malam, sekitar jam 22.00 WIB, sekelompok pemuda yang jumlahnya sekitar 50-an orang didampingi oleh kepala desa, dengan menaiki sebuah truk, datang menggedor-gedor pintu rumah yang kami tempati. Dengan berbagai jenis senjata tajam di tangan mereka, ayah saya diancam akan dibunuh.
Tidak tahu lagi bagaimana saya menggambarkan ketakutan yang saya rasakan ketika itu. Saya yang masih duduk di bangku SMP kala itu, tidak dapat berbuat apa-apa. Saya, ibu saya dan adik-adik saya, hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Melihat berbagai jenis senjata tajam yang teracung ketika itu, saya membayangkan, pastilah kami sekeluarga akan “dihilangkan.”
Hingga pada akhirnya, ayah saya dibawa ke suatu tempat yang kami tidak tahu di mana lokasinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa kami lakukan waktu itu. Kami hanya pasrah dan berdoa kepada Tuhan yang kami sembah. Dengan satu harapan, ayah saya akan kembali lagi ke rumah. Bahkan kembali dalam bentuk mayat pun, kami sudah siap.
Berselang sekitar tiga jam, ayah saya kembali. Kami tidak tahu, ayah diapakan oleh massa tersebut. Dan ayah pun bungkam atas apa yang baru saja ia alami. Malam itu juga, kami harus pindah. Mungkin itu adalah hasil kesepakatan ayah saya dengan massa yang begitu beringas tersebut. Di tengah kesunyian malam kala itu, kami pindah. Kami angkati semua barang-barang yang bisa kami bawa.
Hingga sebuah masalah muncul, ke mana kami mau pindah? Namun kami bersyukur. Ada warga yang berbaik hati. Kami diberi kesempatan untuk tinggal beberapa waktu di sebuah gudang milik mereka yang lama sudah tidak digunakan. Kurang lebih setahun lamanya kami tinggal di gudang tersebut. Hingga akhirnya, kami dapat pindah ke rumah baru yang dengan bersusah payah berhasil dibangun oleh orang tua saya.
Bagi saya pribadi, orde baru memang kejam. Teramat kejam malah. Saya yakin sekali, setiap kita yang pernah hidup di alam orde baru, pasti mempunyai kisah tersendiri tentang kekejian yang dipraktekkan oleh rezim orde baru.
Oleh karenanya, lewat tulisan ini saya menghimbau, marilah kita secara bersama-sama menolak kebangkitan rezim orde baru yang sepertinya dengan sengaja sedang dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak senang Indonesia hidup di era demokrasi dan keterbukaan, yang telah kita nikmati bersama-sama sejak tumbangnya rezim orde baru tersebut.
Mari senantiasa menjaga dan merawat Indonesia. Menjaga dan merawat kebhinnekaan, persatuan, dan kesatuan bangsa Indonesia. Merdeka!!

Rabu, 27 September 2017

Teori Big Bang (Ledakan Besar) dan Penjelasannya



Pengantar:
Dunia science sangat menarik. Apa yang menjadikan science sangat menarik? Karena didalam science kita akan menemukan banyak perspektif-perspektif baru yang bahkan tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Dunia akan lebih luas dan semakin luas. Semakin kita terlibat didalam science semakin kita menyadari bahwa semakin banyak hal yang belum kita ketahui, semakin kita sadar bahwa luasnya bumi belum seberapa didalam jangkauan "Universe" bahkan "Multiverse"


The Big Bang

By: Archer Clear

Faktanya, bahwa "Big Bang" tidak terjadi hanya pada satu titik tunggal (single point), tapi terjadi dimana saja dalam waktu yang bersamaan. Artinya, sebelum the big bang terjadi, tidak ada yang namanya ruang, waktu dan materi, karena kondisi temperature yang begitu tinggi "In the first second after the universe began, the surrounding temperature was about 10 billion degrees Fahrenheit (5.5 billion Celsius), according to NASA"  dan fundamental particle seperti neutron, electron & proton berinteraksi satu dengan yang lainnya saat alam semesta mulai mendingin (cooler). 

Theory Big Bang tidak serta merta diterima begitu saja, adalah 
Georges Lemaître seorang ilmuan belgia dan juga seorang Catholic priest yang pertama kali mengajukan theory ini di tahun 1931, hingga Edwin Hubble yang kemudian membuktikan bahwa alam semesta kita tidak static tapi berkembang, dan dari pengamatan itu kemudian theory big bang menjadi semakin diterima. Memang ada semacam persoalan yang kemudian muncul, dan itu disebabkan oleh latar belakang Georges Lemaître yang seorang priest, namun dengan cukup terbuka Georges Lemaître menulis bahwa jelas sekali ada pemisahan yang tegas antara apa yang diyakininya sebagai seorang agamawan, dan apa yang dilakukannya sebagai seorang Ilmuan :

“As far as I can see, such a theory remains entirely outside any metaphysical or religious question. It leaves the materialist free to deny any transcendental Being… For the believer, it removes any attempt at familiarity with God… It is consonant with Isaiah speaking of the hidden God, hidden even in the beginning of the universe.”

Theory Big Bang memang masih menyimpan misteri yang cukup luas, untuk itu Ilmuan yang bermain pada wilayah quantum cosmology terus berupa mencari tau sejauh mungkin tentang apa yang menjadi penyabab utama dari big bang itu sendiri, atau dalam bahasa yang lebih simple, Big Bang adalah sebuah "Istilah" yang digunakan oleh Ilmuan untuk menggambarkan "ketidakmengertian" mereka secara utuh, tidak ada yang benar-benar mengetahui bagaimana awal dari alam semesta ini, namun menurut data yang sampai saat ini digunakan oleh para Ilmuan, bahwa radiasi sisa Big Bang bisa dibuktikan dengan menggunakan Instrument yang cukup canggih, seperti Cosmic Background Explorer (COBE), BOOMERanG experiment (Balloon Observations of Millimetric Extragalactic Radiation and Geophysics), NASA's Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) and the European Space Agency's Planck satellite.

http://www.physicsoftheuniverse.com/topics_bigbang.html
The Big Bang and the expansion of the universe
Source: http://www.physicsoftheuniverse.com/topics_bigbang.html
Planck's observations misalkan yang launching di tahun 2013 justru mengoreksi umur dari alam semesta itu sendiri yang tadinya di perkirakan sekitar 13.7 Billion, melalui Planck's observations ditemukan bahwa umur alam semesta ternyata sedikit lebih tua, yaitu 13.82 Billion. 

Sebenarnya jika membaca kritik anda, yang membual dan nampak bingung itu adalah pernyataan anda sendiri, Sebelum Big Bang, jelas bahwa ruang, waktu dan materi belum ada, lalu dari mana semua ini muncul?" pertanyaan ini seperti yang saya sampaikan diatas belum menemukan jawaban, karena memang belum ada bukti-bukti observasi yang valid untuk menjawab pertanyaan tersebut, bahwa faktanya alam semesta berkembang iya, jelas ini sudah dibuktikan sejak Hubble mengarahkan telescope ke langit dan menemukan bahwa alam semesta berkembang, dengan kecepatan yang luar biasa. 

Terkait pernyataan Einstein yang anda kutip "bahwa tidak ada materi yang bergerak melebihi kecepatan cahaya" sebenarnya adalah  tidak akurat, ini saya kutipkan pernyataan Einstein terkait speed of light he said that light is the maximum anything can travel within the universe, artinya tempat dimana Light bermain yaitu space bisa mengembang dengan kecepatan yang jauh melebihi kecepatan cahaya itu sendiri (space stretching in all direction). Space bisa melakukan apa saja, it can bend, it can twist, and it can stretch, jadi apapun object yang bermain diatas space tidak akan merubah karakter dari space itu sendiri. 

Einstein memang tidak menerima logika "Uncertainty" yang ditawarkan oleh Heisenberg, pernyataannya yang paling terkenal dan sering dikutip untuk menggambarkan ketidak setujuannya pada quantum mechanic adalah "god doesn't play dais with the universe" tapi seorang Niel Bohr justru menimpali pernyataan itu dengan pernyataan yang tidak kalah philosophynya "stop telling god what to do", dan jika membaca perkembangan science dewasa ini, harus diakui bahwa Einstein telah keliru, hukum-hukum yang bekerja pada wilayah sub-atomic particle memang bekerja sesuai dengan princip uncertainty-nya Heisenberg. 

Dan pada akhirnya, memang jawaban atas dari mana alam semesta ini berawal masih akan menjadi sesuatu yang menarik bagi para Ilmuan, mungkin kaum agamawan sudah cukup puas dengan jawaban yang mereka dapatkan dalam kitab suci, tanpa lelah atau berkeringat untuk membuktikan claim-claim yang ada dalam kitabnya, sementara science justru semakin memberikan perspektif-perspektif baru yang tanpa batas, dua wilayah ini akan senantiasa bertentangan, karena nature dan nurturenya sama sekali berbeda, science bekerja pada wilayah yang empiris, punya metode pembuktian yang jelas, sementara agama tidak membutuhkan metode apa-apa selain percaya, dan disanalah berakhirnya pencaharian kaum agama, dan boring nongkrong diatas menara gading.

Satu hal lagi, agama sejauh yang saya amati selalu menggunakan penemuan-penemuan science untuk memperkuat claim yang mereka sendiri tidak sanggup menawarkan satu metode pembuktian, maka benar apa yang pernah ditulis oleh Arthur C Clarke, bahwa agama hanya bisa main sabotase atas temuan-temuan science, dan tidak sanggup menghadirkan metode pembuktian diluar science. 


Big Bang dan theory Evolusi memang dua hal yang sanggup membuat banyak manusia tidak nyaman, karena menyampaikan kebenaran dengan fakta-fakta yang tidak terbantahkan. 



Baca Juga:
Penemuan Sains yang membuka mata Dunia

Senin, 24 April 2017

Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar

Investigasi tentang persekutuan para jenderal mendongkel Jokowi lewat kasus Al-Maidah.
tirto.id - Rekan-rekan Donald Trump di Indonesia telah bergabung bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang tujuan akhirnya menjatuhkan Presiden Joko Widodo. Menurut beberapa tokoh senior dan perwira militer dan intelijen yang terlibat dalam aksi yang mereka sebut sebagai "makar", gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.

Pendukung utama gerakan makar ini termasuk Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI dan salah satu penyokong politik Donald Trump; dan Hary Tanoesoedibjo, rekan bisnis Trump yang membangun dua Trump Resort, satu di Bali dan satu di dekat Jakarta (di Lido, Jawa Barat).
CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo dan Komisaris PT MNC Land Tbk Liliana Tanoesoedibjo berfoto bersama Donald J. Trump New York, AS. (Dok. MNC Group)
Laporan tentang gerakan menjatuhkan Presiden Jokowi ini disusun berdasarkan sejumlah wawancara dan dilengkapi dokumen dari internal tentara, kepolisian, dan intelijen yang saya baca dan peroleh di Indonesia, juga dokumen Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden. Banyak sumber dari dua belah pihak yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya. Dua dari mereka mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan mereka.
Photo: Beawiharta/Reuters


Usaha Makar

Protes besar-besaran muncul menjelang Pilgub DKI Jakarta 2017. Mereka menuntut petahana Gubernur Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Dengan pendanaan yang baik dan terorganisir, demonstrasi berhasil mengumpulkan ratusan ribu di jalanan Jakarta.

Dalam perbincangan dengan tokoh-tokoh kunci gerakan perlawanan terhadap Ahok, diketahui kasus penistaan agama ini hanya dalih untuk tujuan yang lebih besar: menyingkirkan Joko Widodo dan mencegah tentara diadili atas peristiwa pembantaian sipil 1965—pembunuhan massal oleh militer Indonesia dan didukung pemerintah AS. Aktor utama dalam 'serangan pembuka' yang berperan sebagai penyuara dan pendesak adalah Front Pembela Islam (FPI), yang diketuai Rizieq Shihab. Bersama Rizieq, dalam rantai komando, ada juru bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon.

Munarman, yang sempat terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al-Baghdadi, adalah pengacara yang bekerja untuk Freeport McMoran, yang saat ini dikendalikan oleh Carl Icahn, sahabat Donald Trump. Meski koneksi Trump tampak penting dalam plot makar ini, belum diketahui apakah Trump atau Icahn punya hubungan langsung. Sementara Munarman tidak menanggapi permintaan komentar untuk artikel ini.

Arsip Edward Snowden menyimpan banyak dokumen terkait FPI. Termasuk di dalamnya dokumen yang menuliskan bahwa kepolisian Republik Indonesia tak berani menangkap FPI karena takut serangan balik, dan dokumen lain yang memaparkan FPI adalah cabang dari Jemaah Islamiyah, jaringan jihad yang terlibat dalam Bom Bali tahun 2002, dan dokumen pengiriman senjata api dari Kepolisian Republik Indonesia untuk latihan anggota FPI Aceh. NSA dan Gedung Putih tak merespons tulisan ini.

Sementara gerakan protes besar-besaran yang digelar FPI berlangsung selama enam bulan terakhir, saya mendapatkan informasi yang rinci dari lima laporan internal intelijen Indonesia. Laporan-laporan itu disusun oleh tiga agen pemerintah Indonesia. Seluruhnya dikonfirmasi oleh sedikitnya dua tokoh militer, intelijen, atau staf istana.

Salah satu laporan menyatakan bahwa gerakan ini sebagian didanai Tommy Soeharto—anak diktator Soeharto—yang pernah masuk bui gara-gara menembak mati hakim yang memvonisnya bersalah. Sumbangan finansial Tommy juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zen. Kivlan sendiri, yang membantu FPI memimpin protes besar-besaran di Jakarta pada November 2016, sedang menghadapi ancaman penjara dengan tuduhan makar. Ia juga bekas pemimpin tim kampanye Prabowo dalam pemilu 2014.

Laporan lain menyatakan sebagian dana berasal dari Hary Tanoe, miliuner rekanan bisnis Donald Trump. Para tokoh penting gerakan protes itu—beberapa di antaranya saya temui pada Jumat silam (14/4)—berkali-kali menekankan kepada saya bahwa Hary adalah salah satu pendukung mereka yang terpenting. Mereka berharap Hary dapat jadi penghubung antara Prabowo dan Trump.

Manimbang Kahariady, seorang pejabat Partai Gerindra, mengaku ia berjumpa Hary tiga hari sebelum pertemuan kami. Ia dan tokoh-tokoh gerakan yang lain yakin bahwa Hary memberitahu Trump mengenai pentingnya mendukung mereka dan menyingkirkan lawan-lawan mereka, dan itu dimulai dari Ahok.

Tommy Soeharto tak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan. Harry Tanoe menolak berkomentar.

Laporan ketiga menyatakan sebagian dana gerakan FPI berasal dari mantan presiden dan Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)—informasi yang membikin jengkel Presiden Jokowi ini terbongkar kepada khalayak dan kemudian ditanggapi SBY dalam mode marah. SBY langsung menyatakan itu dusta belaka dan pemerintah telah menjahatinya dengan cara menyadap teleponnya.

Tujuh staf intelijen/militer aktif dan pensiunan menyatakan kepada saya bahwa SBY memang menyumbang untuk aksi protes FPI, tetapi menyalurkannya secara tidak langsung. Salah satu informan tersebut adalah Laksamana (Purn) Soleman B. Ponto—bukan pendukung gerakan makar—mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasihat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). "SBY menyalurkan bantuannya lewat masjid dan sekolah," kata Soleman.

Hampir semua pensiunan tentara dan sebagian tokoh militer, menurut Soleman, mendukung tindakan SBY tersebut. Ia mengetahui hal ini karena—selain keterlibatannya di dunia intelijen—jenderal-jenderal pro makar adalah rekan dan kawan-kawannya, banyak di antara mereka berhimpun dalam grup WhatsApp "The Old Soldier".

Menurut Soleman, para pendukung gerakan makar di kalangan militer menganggap Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa. 

"Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Jokowi," katanya.

hoto: Agoes Rudianto/Anadolu Agency/Getty Images

Caranya tentu bukan serangan langsung militer ke Istana Negara, melainkan "kudeta lewat hukum", mirip-mirip kebangkitan rakyat yang menggulingkan Soeharto pada 1998. Hanya, kali ini publik tidak berada di pihak pemberontak—dan tentara nasional Indonesia, alih-alih melindungi Presiden, lebih senang ikut menggerogotinya.

"Makar ini bakal kelihatan seperti pertunjukan People Power," ujar Soleman. "Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur," dan presiden sudah terjengkang saat mereka bangun.

Skenario lain: Aksi-aksi protes yang dipimpin FPI bakal menggelembung kelewat besar, membikin Jakarta dan kota-kota lain kacau-balau, lalu militer datang dan menguasai segalanya atas nama menyelamatkan negara. Kemungkinan penuh kekerasan ini dibicarakan secara rinci oleh Muhammad Khaththath, Sekjen Forum Umat Islam, dan Usamah Hisyam saat saya bertemu mereka Februari lalu (Usamah adalah penulis biografi SBY berjudul SBY: Sang Demokrat).

Lebih dari urusan keagamaan, menurut mereka, masalah terbesar Indonesia saat ini adalah komunisme gaya baru, dan militer harus siap turut campur dan menggembalakan keadaan karena Indonesia belum cukup dewasa untuk demokrasi. Jokowi, kata mereka, menyediakan lahan bagi komunisme dan satu-satunya organisasi yang cukup kuat buat menghadapi komunisme ialah tentara nasional.

Mereka mengaku sudah punya daftar orang-orang komunis di Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah yang mereka incar. Di lapangan, mereka mengikuti panduan taktik dan strategi dari seorang jenderal antikomunis yang bekerja bersama mereka. Tentara hanya mungkin ikut campur bila ada kekacauan. Dalam keadaan damai, mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Khaththath dan Usamah berkata kepada saya bahwa mereka tidak menginginkan pertumpahan darah. Mereka ingin kudeta damai, tetapi juga menekankan, dalam beberapa pekan ke depan, bakal ada revolusi oleh umat. Istana ketakutan, kata mereka.

Setelah Khaththath ditangkap polisi dengan tuduhan makar, Usamah mengirimkan pesan kepada saya bahwa kini ia mengambil kendali perjuangan di lapangan—sebagaimana  peran Khattath setelah imam besar FPI Rizieq Shihab digembosi skandal seks dan masalah-masalah lain.

1965, Lagi

Segera setelah wawancara kami selesai, saya menerima dokumen dari seorang perwira militer, yang bisa dianggap sebagai template untuk komentar-komentar Khaththath dan Usamah tentang aksi-aksi jalan. Berjudul “Analisis Ancaman Komunis Gaya Baru di Indonesia”, dokumen ini ialah rangkaian salindia powerpoint yang digunakan sebagai materi pelatihan ideologis di tangsi-tangsi militer seantero Indonesia.

Komunisme Gaya Baru, disingkat KGB, adalah sebuah konsep yang mengisahkan ancaman komunis melalui cerita-cerita tentang sosok Stalin, Pol Pot, dan Hitler—dan tampaknya ancaman ini cukup luas sampai-sampai mencakup siapa pun yang mengkritik TNI.

Mengacu pada kebijakan yang dituding berwatak komunis seperti “program kesehatan dan pendidikan gratis,” dokumen itu mencela “pluralisme dan keragaman dalam sistem sosial” sebagai ancaman khas “KGB” yang sedang pasang di Indonesia. Dengan menggunakan teknik penilaian ancaman (threat assessment techniques) yang diambil dari nukilan-nukilan doktrin dan teks intelijen Barat—kadang ditulis dalam bahasa Inggris—dokumen ini memperingatkan kaum komunis “sedang memisahkan tentara dari rakyat” dan “memanfaatkan isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi, seraya memosisikan diri sebagai korban demi meraih simpati.”

Pernyataan tentang korban-korban pelanggaran HAM jelas merujuk pada tokoh-tokoh seperti Munir Said Thalib, teman saya, seorang pembela keadilan sosial yang brilian, yang dibunuh pada 2004 dengan dosis besar arsenik yang menyebabkan ia muntah sampai mati dalam sebuah penerbangan ke Amsterdam; atau korban pembantaian 1965 yang berjumlah sekitar satu juta warga sipil, yang dibunuh oleh tentara dengan dukungan AS dalam rangka mengonsolidasikan kekuasaan setelah percobaan kudeta.

Ihwal pembantaian 1965 muncul ketika saya berbincang dengan Jenderal (Purn) Kivlan Zen, yang mengatakan jika Jokowi menolak tunduk pada keinginan tentara, taktik serupa bisa dikerahkan lagi.

Sebagaimana banyak pejabat yang sempat berbincang dengan saya, Kivlan menyatakan gerakan jalanan yang didukung tentara dan krisis saat ini buntut dari Simposium 1965, yang memungkinkan penyintas dan keturunan korban '65 untuk membicarakan secara terbuka atas apa yang telah menimpa mereka dan menceritakan bagaimana orang-orang yang mereka cintai meninggal. 

Bagi sebagian besar tentara, simposium itu adalah kekurangajaran yang tak bisa diterima dan dengan sendirinya menjustifikasi gerakan kudeta. Seorang jenderal mengatakan kepada saya, yang paling membuat marah rekan-rekannya adalah karena simposium itu “menyenangkan korban.” Simposium itu, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan Gubernur Ahok atau persoalan agama mana pun, melainkan soal tentara dan kejahatannya.

“Kalau bukan karena Simposium itu, gerakan seperti sekarang ini tidak akan ada,” kata Kivlan. “Sekarang komunis sedang bangkit lagi,” keluh Kivlan. ”Mereka ingin mendirikan partai komunis baru. Para korban '65, mereka semua menyalahkan kami.... Mungkin kita akan lawan mereka lagi, seperti tahun '65.”

Saya terkejut dengan pernyataan itu. Saya ingin memastikan saya tidak keliru mendengarnya.

“Bisa saja terjadi, '65 bisa terulang lagi,” ulang Kivlan.

Alasannya?

“Mereka mencari keadilan yang setimpal.”

Dengan kata lain, Kivlan sedang membangkitkan momok baru pembantaian massal jika korban tidak berusaha melupakan. Kivlan menjelaskan secara rinci mengapa kudeta '65 dibenarkan. Dia mengatakan presiden yang digulingkan, Sukarno, yang saat itu ‘ditawan’ oleh tentara, telah memberikan perintah kepada angkatan bersenjata untuk mengambil alih kekuasaan. Dan parlemen telah “menyerahkan kekuasaan” kepada Angkatan Bersenjata.

Saya bertanya, mungkinkah itu terjadi lagi sekarang?

“Bisa saja,” jawabnya. “Tentara bisa bergerak lagi sekarang, seperti Soeharto di era itu.”

Kivlan mengatakan kepada saya bahwa Juli lalu, setelah Simposium, Jokowi mengunjungi markas TNI dan menyatakan kepada para jenderal yang berkumpul saat itu bahwa “ia tidak akan meminta maaf kepada PKI.”

“Jika Jokowi tetap berada di jalur itu"—sikap tidak meminta maaf—"Dia tidak akan digulingkan. Dia akan selamat. Tapi jika dia meminta maaf: [dia] Selesai, tamat,” kata Kivlan.

Saya ingin memastikan kembali apakah dia benar-benar mengatakan bahwa tentara akan bertindak seperti di tahun '65 lagi.

“Ya, untuk mengamankan situasi, termasuk seperti tindakan di tahun '65.”

No say surrender,” pungkasnya, dalam bahasa Inggris.

Meskipun Kivlan dipandang sebagai golongan yang cenderung ideologis di antara para jenderal, perlu dicatat bahwa banyak rekannya mulai kasak-kusuk menggulingkan Jokowi sekalipun Jokowi tidak meminta maaf. Dalam hal ini, Kivlan termasuk dalam sayap moderat. Yang luar biasa, usulan minta maaf kepada korban ternyata cukup membuat para jenderal kebakaran jenggot untuk menggulingkan presiden.

Kivlan sering disebut-sebut sebagai salah satu orang yang berjasa menciptakan FPI setelah Soeharto jatuh. Dalam percakapan kami, Kivlan membantah ikut bertanggung jawab merancang FPI, tapi dia terus membahas secara rinci bagaimana kelompok tersebut hanyalah salah satu contoh yang lebih luas dari strategi tentara dan polisi untuk menciptakan kelompok-kelompok sipil binaan—yang kadang bercirikan Islam, kadang tidak—yang dapat digunakan untuk menyerang para pembangkang seraya mencuci tangan aparat.

Kivlan menyatakan bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada 4 November 2016, ia menerima pesan teks dari Mayjen (Purn) Budi Sugiana yang memintanya “untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.”

Misinya, kata Kivlan, “untuk menyelamatkan Indonesia,” dengan bergabung bersama pemimpin FPI Habib Rizieq di atas mobil komando selama demonstrasi, karena “mereka butuh orang untuk mengambil alih massa [di luar istana], seandainya [Rizieq] ditembak dan mati.”

Pada Desember 2016, Kivlan ditangkap polisi atas tuduhan menggulingkan Jokowi. Namun, ketika kami berbincang pada akhir Februari, dia tetap saja bebas dan bahkan melancong ke luar negeri. Dia malah menyatakan sedang melaksanakan suatu misi untuk Jenderal Gatot Nurmantyo, Panglima TNI saat ini, yakni berupaya membebaskan para sandera Indonesia di Filipina.

Soal pertanyaan siapa yang diam-diam membekingi gerakan tersebut dan siapa yang betulan “komunis”, Kivlan berbicara secara on-the-record dan off-the-record, secara persis dan umum. Karakterisasinya atas sikap kawan-kawannya sesama jenderal sangat berkaitan erat dengan sikap aparat lain yang banyak diceritakan orang. Namun, tidak seperti kebanyakan dari mereka, Kivlan mengatakannya secara on-the-record.

“Begitu banyak pensiunan militer—dan yang masih aktif dalam militer—yang bersama FPI ... Karena FPI pun bertujuan melawan komunis.”

Setelah apa yang dia bicarakan tentang penggulingan Jokowi dan mengambil tindakan seperti pada tahun '65, saya bertanya: Apakah Jenderal Gatot—Panglima TNI saat ini—setuju?

"Dia setuju!"

Tapi dia pun menambahkan, sebagai perwira yang masih aktif, Gatot harus “sangat berhati-hati” mengambil sikap di depan publik.

Pernyataan on-the-record Jenderal Kivlan tentang peran Gatot konsisten dengan jenderal-jenderal lain dan para penggerak kudeta, serta dengan pernyataan yang diduga bersumber dari Presiden Jokowi sendiri. Saya pun bertanya kepada seorang pejabat yang memiliki akses rutin ke presiden tentang klaim yang dilontarkan Jokowi, “Apakah Gatot merupakan faktor utama dalam kudeta tersebut?” Pejabat itu menjawab, ya, presiden mengatakan itu, dalam pertemuan tertutup. Gatot tidak merespons permintaan tanggapan untuk artikel ini.

Mengenai bos lamanya, Prabowo, Kivlan berkata: "Dia tak mau dekat-dekat, tetapi dia terlibat melalui Fadli Zon." Prabowo akan kesulitan jika terlihat mesra dengan gerakan itu. Sedangkan mengenai menteri pertahanan Ryamizard Ryacudu, Kivlan bilang "hatinya setuju dengan tujuan kami, tetapi tidak dapat bicara."

Kivlan memuji cara Wiranto menempatkan diri. "Wiranto bagus," katanya, "karena dia mau bikin harmoni dengan gerakan" dan memperjuangkan kepentingan mereka dalam kapasitasnya selaku Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

Kivlan menambahkan bahwa Wiranto, yang terancam dakwaan kejahatan perang di Timor Leste, punya rencana bagus untuk perkara genting yang dihadapi tentara. Ia mendesak Jokowi supaya "tak ada pengadilan HAM."

Elegannya strategi mendorong kudeta itu adalah militer akan menang sekalipun kudeta gagal. Meski Jokowi tetap menjabat presiden, para jenderal akan aman—menurut mereka—dari pengadilan HAM. Sebab, untuk menyingkirkan segerombolan pembunuh, presiden harus merangkul kumpulan jenderal yang tak kalah bengisnya.

Yang terdepan di antara mereka adalah A.M. Hendropriyono, mantan Kepala BIN dan aset CIA, yang terlibat dalam pembunuhan Munir serta serangkaian kejahatan besar lain. Sepanjang krisis ini, orang-orang Hendro-lah (tentara, intelijen, polisi, sipil) yang mengepalai benteng pelindung Jokowi. Orang-orang Hendro-lah yang mengatur penangkapan-penangkapan atas nama kudeta dan memincangkan Rizieq Shihab dengan skandal bokep, juga menghajar sumber-sumber dana gerakan dengan tuduhan pencucian uang ISIS.

Gantinya, Hendro dan konco-konconya memperoleh jaminan kekebalan dari peradilan. Dan dalam aturan aparat, jika mereka aman, semua orang aman. Ada persetujuan diam-diam untuk menolak persekusi terhadap rekan, sekalipun jika kedua pihak bermusuhan.

Pada Februari 2017, di bawah tekanan istana, pengadilan administrasi Jakarta menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi bisa menghindari kewajiban hukum merilis laporan tim pencari fakta yang secara terbuka membahas tanggung jawab Hendropriyono dalam perkara pembunuhan Munir. Janda Munir, Suciwati, dan Haris Azhar dari Kontras, mengecam vonis itu dan menyebutnya sebagai usaha "melegalkan kriminalitas".

Dengan gaya yang mirip, gerakan kudeta juga telah membantu Freeport. Sejak tahun lalu, pemerintah Jokowi berupaya menulis ulang kontrak negara dengan Freeport dan mengembalikan hak ekspor mereka. Pada saat yang sama, pemerintah diguncang oleh gerakan yang dipimpin pengacara yang bekerja untuk Freeport.

Pada awal April, setelah gerakan permulaan yang polisi klaim sebagai empat upaya merebut DPR dan Istana, pemerintahan Jokowi mengejutkan dunia politik Indonesia dengan tiba-tiba menyerah kepada Freeport dan memberi lampu hijau ekspor tembaga baru. Mundur tiba-tiba tidak membuat sengketa selesai—lebih dalam lagi, isu mengenai kontrak masih tersisa—tetapi, seperti yang dikatakan pejabat Jokowi kepada saya, pemerintah saat ini merasa posisinya melemah.

Dalam sebuah cerita yang berjudul lucu, “Freeport mendapat karpet merah, sekali lagi,” The Jakarta Post menulis: “Pemerintah berusaha membela keputusannya, meskipun tidak ada dasar hukum yang membelakanginya ... Freeport dinilai telah menghindari peluru lagi.”

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence akan mengunjungi Indonesia pada 20 April. Staf-staf pemerintahan Jokowi menduga, berbisik-bisik, bahwa tuntutan-tuntutan Freeport akan jadi prioritas utamanya. Salah seorang tokoh gerakan, dalam pertemuan kami Jumat lalu, menatap saya dan berseru: "Pence bakal mengancam Jokowi soal Freeport!"

Freeport Indonesia tidak menanggapi permintaan konfirmasi.

Dalih Penistaan Agama

Kivlan Zen mengejutkan saya ketika menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah memberi “sebuah berkah” kepada gerakan tersebut dengan "keseleo lidahnya" terkait Al-Maidah ayat 51.

Photo: Beawiharta/Press Pool via AFP/Getty Images

Dalam penampilan mereka di muka publik, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim mereka selamanya terluka oleh ucapan Ahok. Tapi salah satu dari mereka, dengan senyum simpul, mengakui secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena ia memungkinkan FPI dan para sponsornya menggeser perimbangan kekuasaan di Indonesia, melesatkan reputasi mereka dari preman jalanan menjadi pakar agama.

Lebih dari itu, saat saya duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, yang dengan setengah bercanda ia sebut sebagai "politbiro", mereka secara santai berdebat tentang boleh tidaknya nonmuslim memimpin umat Islam. Mereka melakukan itu ketika mendiskusikan Hary Tanoe, yang secara berlebihan mereka puji sebagai pendukung utama gerakan mereka—melalui bantuan dana langsung dan stasiun televisinya, yang kena tegur KPI karena bias politik yang terlalu pro-gerakan secara tak wajar dan ketidakakuratan dalam pemberitaan—dan garis hidup yang mereka bayangkan terhubung dengan Presiden Donald Trump.

Mereka yang berada di ruangan itu satu suara menginginkan pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai presiden dan Prabowo sebagai wakil, atau sebaliknya, tergantung poling.

Persoalannya, dan sepertinya tidak terlalu mengusik mereka, Hary adalah seorang China-Kristen seperti Ahok. Apabila standar yang mereka tetapkan kepada Ahok dipegang teguh, seharusnya Hary tidak masuk kualifikasi untuk memimpin Jakarta, apalagi Indonesia.  

==========

The Author  : Allan Nairn
Source          : Tirto.ID   

 
Design by Jery Tampubolon | Bloggerized by Jery - Rhainhart Tampubolon | Indonesian Humanis